Pengamatan Burung Nokturnal


         Seperti yang kita ketahui tidak semua burung aktif mencari makanan pada siang hari, banyak juga burung-burung yang aktif mencari makanan pada malam hari, atau lebih kita kenal dengan sebutan burung nokturnal. Pada pengamatan kali ini dilakukan pengamatan burung nokturnal di kampus unpad Jatinangor, objek yang kita cari pada kali ini adalah burung raptor nokturnal, terdapat 7 famili dari burung raptor, 2 famili diantaranya merupakan burung raptor nokturnal, yaitu yang berasal dari famili Tytonidae dan juga famili Strigidae, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara burung raptor diurnal dan burung raptor nokturnal, salah satunya adalah jika pada burung raptor diurnal memiliki posisi mata disamping kanan dan kiri kepala, sedangkan pada burung raptor nokturnal posisi mata berada sejajar dan memiliki bukaan pupil yang besar.

        Pada tanggal 8 april 2016 dilakukan pengamatan di sekitaran gedung psikologi, gedung farmasi, belakang gedung statistika, gedung FISIP serta gedung FIB. Pengamatan kali ini didampingi oleh Kang Aulia (2011), Kang Rizki (2011), Kang Cipta (2013) dan Kang Tubagus (2013). Metode yang dipakai kali ini adalah metode survey, beberapa peralatan yang digunakan dalam pengamatan yaitu senter atau head lamp sebagai sumber penerangan, field guide untuk membantu identifikasi burung dan juga kamera.

          Hasil dari pengamatan kali ini kita dapat menemukan beberapa Tyto alba atau lebih dikenal dengan serak jawa yang berasal dari famili Tytonidae dan juga Otus lempiji atau celepuk yang berasal dari famili Strigidae, celepuk memliki ukuran yang cukup kecil yaitu sekitar satu jengkal tangan orang dewasa. Tyto alba ditemukan di atap gedung psikologi, atap gedung farmasi dan atap gedung FISIP sedangkan Otus lempiji ditemukan di pohon-pohon di sekitaran FIB. Hasil pengamatan kali ini sebenarnya kurang maksimal, karena waktu yang tepat untuk pengamatan burung hantu adalah setelah hujan selama dua sampai tiga hari, karena pada waktu tersebut burung hantu akan banyak berkeliaran untuk mencari makan. Sayap burung hantu tidak seperti burung -burung air yang dapat tahan air, sehingga burung hantu tidak dapat terbang untuk mencari makanan ketika sedang hujan. Selain itu jika dibandingkan dengan pengamatan yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya pada pengamatan kali ini didapatkan hasil yang lebih sedikit, kemungkinan ini dapat terjadi karena di kampus Unpad Jatinangor sedang berlangsung pembangunan di beberapa lokasi sehingga burung hantu dapat saja terganggu dan mereka berpindah tempat untuk tinggal di sekitaran Arboretum.

c

Galeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s