PHANEROGAMAE


          Rangkaian pelatihan rutin Floring ini kembali diadakan pada Selasa, 4 April 2016 di Lapang Parkir Dekanat bersama teh Tarwinih dari Biologi (2012) dengan tema Phanerogamae. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu Phanerogamae. Seperti yang kita ketahui bahwa Phanerogamae berasal dari bahasa Yunani yaitu phaneros yang berarti nampak dan gamae yang berarti kawin, sehingga Phanerogamae itu sendiri adalah tumbuhan yang memiliki alat perkembangbiakan yang jelas atau nampak. Berbeda dengan Cryptogamae, golongan Phanerogamae ini sudah memiliki tingkat perkembangan tubuh yang lebih tinggi karena organ utamanya seperti akar, batang, dan daun dapat dibedakan dengan jelas. Dengan perbedaan morfologi ini, maka Phanerogamae sering disebut sebagai tumbuhan tingkat tinggi, sementara Cryptogamae sebagai tumbuhan tingkat rendah.

A

        Pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, kita telah mempelajari tentang morfologi daun dan bunga pada tumbuhan. Mempelajari morfologi dari organ-organ tumbuhan tersebut rupanya membantu dalam pengklasifikasian suatu tumbuhan, sehingga kita dapat mengetahui tumbuhan yang dimaksud masuk ke kelompok mana. Oleh karena itu, setelah memiliki bekal tentang morfologi tumbuhan, kita masuk ke dalam penggolongan tumbuhan, dimana biasa kita sebut dengan Taksonomi. Taksonomi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi, tatanama, dan pencirian suatu organisme. Yang kita pelajari kali ini adalah pencirian. Ciri merupakan karakter yang melekat pada suatu organisme, baik itu berupa bentuk, struktur, penampilan, dan lain sebagainya sehingga dari pencirian ini kita dapat membedakan antara tumbuhan jenis yang satu dengan yang lain. Ciri ini dapat dilihat baik dari morfologi, anatomi, fisiologi, perilaku, dan lain-lain.

    Pemateri memaparkan beberapa suku tumbuhan berdasarkan spesimen yang telah disediakan. Pertama adalah Fabaceae atau Leguminosae (kacang-kacangan). Sebelumnya seluruh tumbuhan yang memiliki ciri khas buah legum dimasukkan ke kelompok besar Fabaceae, namun seiring berjalannya waktu suku Fabaceae ini dipecah menjadi tiga suku, yaitu Caesalpiniaceae, Mimosaceae, dan Papilionaceae. Ketiga suku ini sama-sama memiliki buah legum, namun yang membedakan adalah terletak pada bunganya. Ciri dari bunga Caesalpiniaceae adalah memiliki stamen yang panjang menjuntai dengan jumlah yang lebih dari 10, serta karangan bunga majemuk racemus, panicula, dan corymbus. Contoh yang termasuk Caesalpiniaceae adalah bunga johar (Caesalpinia pulcherrima). Suku yang kedua, Mimosaceae, memiliki ciri khas yaitu stamen pada bunganya panjang dan biasanya warnanya mencolok. Karangan bunga biasanya majemuk tipe bonggol (capitulum), kecuali pada kaliandra merah (Calliandra callothyrsus). Selain kaliandra, contoh dari suku Mimosaceae ini adalah putri malu (Mimosa invisa) dan Calliandra sp. Suku yang ketiga adalah Papilionaceae, biasa dikenal sebagai suku polong-polongan. Ciri khasnya yaitu bunganya yang unik karena memiliki tiga bagian, yaitu 11  bendera  (vexilum);  2  sayap  (alae);  dan  2  lunas  (carina). Stamennya monodelphus atau diadelphus. Contoh dari suku Papilionaceae adalah dadap merah (Erythrina crysta-galli), bunga sentro (Centrosoma fubescens), kacang tanah (Arachis pintoi), dan lain-lain.

         Berlanjut pada pembahasan suku yang keempat yaitu Sapindaceae. Spesimen yang ditunjukkan pada pelatihan ini adalah Ki Sabun atau Filicium decipiens. Seperti yang biasa kita kenal, tumbuhan Ki Sabun ini memiliki ciri khas yaitu mengeluarkan zat seperti sabun pada bagian bawahnya ketika hujan turun. Zat inilah yang juga menjadi ciri khas dari suku Sapindaceae. Zat tersebut dinamakan zat saponin. Selain di permukaan bawahnya, zat saponin ini didapat ketika kita meremas daun dari tumbuhan Sapindaceae ini, lalu memasukkannya ke dalam air. Alhasil, pada air tersebut terdapat busa-busa sebagai reaksi dari saponin ini. Selain Ki Sabun, contoh tumbuhan yang termasuk ke dalam suku ini adalah rambutan, leci, lerak, dan lain-lain.

      Selanjutnya adalah suku Rubiaceae. Ciri khas dari suku ini adalah pada batangnya terdapat stipula interpetiolar yaitu stipula di antara tangkai daun. Pada Ixora javanica misalnya, stipula interpetiolar ini nampak jelas berwarna cokelat. Lain halnya dengan suku Rutaceae atau biasa kita kenal dengan suku jeruk-jerukan ini memiliki ciri khas yaitu memiliki kelenjar atsiri pada daunnya yang berbintil-bintil, batangnya berduri dan aromatis, serta tipe buahnya hesperidium. Kemuning (Murraya paniculata) dan berbagai jenis dari Cytrus termasuk ke dalam suku Rutaceae. Suku Asteraceae memiliki ciri khas yaitu tipe karangan bunga cawan (antodium) dan pseudoanthium atau bunga semu. Pada bunga Asteraceae terdapat dua bagian yang menempel pada pappus, yaitu ray floret dan tube floret. Pada bunga matahari (Helianthus annuus) misalnya, bunga bagian luar yang panjang dan lebar dinamakan rey floret, sedangkan tube floret berbentuk tabung terletak pada bagian tengah bunganya. Suku ini memiliki jenis yang banyak kita jumpai,  baik sebagai tanaman hias maupun cover ground, seperti Ageratum conyzoides, Tithonia diversifolia, Wedellia trilobata, Bidens pilosa, dan lain sebagainya.

       Suku Euphorbiaceae merupakan suku jarak-jarakan, dimana memiliki ciri khas yaitu bergetah putih, terdapat leaf scar pada batangnya, dan tipe buahnya yaitu kendaga tiga. Selain itu, sebagian besar tumbuhan Euphorbiaceae memiliki bunga flos nodus, yaitu asepal dan apetal. Contoh yang termasuk ke dalam suku Euphorbiaceae adalah singkong (Manihot esculenta), mahkota duri (Euphorbia milii), kemiri (Aleurites moluccana), dan sebagainya.

b

         Selanjutnya, peserta diajak oleh pemateri untuk berjalan-jalan di sekitar kampus Biologi dan FMIPA. Selain menemukan contoh spesies lain dari suku yang telah dipaparkan sebelumnya, peserta juga diperkenalkan suku lainnya seperti Anacardiaceae, Moraceae, Meliaceae, Verbenaceae, Lythraceae, Poaceae, Cyperaceae, dan Ebenaceae. Contoh dari Anacardiaceae yang sering dijumpai adalah mangga (Mangifera indica) dengan karakteristik khususnya yaitu terdapat kelenjar resin pada kayunya serta daging buah yang umumnya berserabut. Selain itu, peserta juga menjumpai pohon bunga sakura Indonesia yaitu Lagerstroemia speciosa yang tergolong suku Lythraceae. Ciri khas yang dijumpai adalah batangnya yang tampak mengelupas seperti pada suku Myrtaceae. Selanjutnya, terdapat beberapa jenis dari suku Moraceae yang jumlah jenisnya banyak di wilayah sekitar kampus FMIPA. Tanaman yang termasuk ke dalamnya adalah Ficus lyrata, Artocarpus heterophyllus, Ficus elastica, dan sebagainya. Ciri khas dari suku ini adalah terdapat getah putih, adanya ocrea, dan sebagian besar buahnya hypanthodium, seperti pada Ficus lyrata.

          Dalam perjalanan, dijumpai berbagai macam pohon berkayu yang biasa dipakai dalam bidang industri dan peralatan rumah tangga. Gmelina arborea atau jati putih termasuk ke dalam suku Verbenaceae, dimana memiliki ciri khas yaitu batangnya yang quadrangularis, berduri, dan karangan bunganya umbellata. Diospyros blancoi atau Bisbul yang termasuk ke dalam keluarga eboni yaitu suku Ebenaceae. Sebagian besar yang termasuk Ebenaceae memiliki kayu yang keras, berwarna hitam, dan baik untuk bahan furnitur dan industri. Swietenia mahagonia atau mahoni, termasuk ke dalam suku Meliaceae. Ciri khasnya yaitu batangnya beralur dan buahnya yang bersayap tanpa endosperm.

       Selain tanaman pohon, pemateri juga menjelaskan mengenai salah satu tumbuhan cover ground yaitu rumput. Terdapat dua suku rumput, yaitu Poaceae dan Cyperaceae. Meskipun pada dasarnya sama-sama memiliki glume, tipe buah caryopsis, dan tipe karangan bunganya juga hampir sama, namun terdapat perbedaan yang mencolok antara dua suku ini. Anggota Poaceae memiliki batang yang beruas-ruas dan berongga, dengan daun yang terdiri dari helai, pelepah, dan ligula. Sementara pada Cyperaceae batangnya berbentuk triangularis.

c

      Setelah berjalan-jalan mengamati tumbuhan sekitar FMIPA, para peserta berkumpul lagi lalu memberikan review mengenai materi yang diberikan. Peserta terlihat antusias dan puas, karena pelatihan kali ini tidak sekedar pematerian melainkan pengaplikasian secara langsung ke lapangan. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini peserta tidak hanya mengetahui nama tumbuhan tersebut, melainkan mengenal secara lebih dalam perbedaan antara satu jenis dengan jenis yang lain 🙂

 

Vidyanti Masykur

Divisi Flora dan Lingkungan

Departemen Keilmuan DP XXXVII

  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s