Ornitologi Mammalogi Gathering (OMG)


          a

          Assalamualaikum kawaaaan semua, sudah pada denger kan kalo kemarin telah dilaksanakan acara OMG yang keren banget itu?hehe. Nah, disini  kita mau bagi pengalaman nih tentang keseruan dan kecengangan waktu ngamatin burung di Tahura kemarin.

         OMG adalah singkatan dari Ornitologi Mammalogi Gathering.. Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari divisi Ornitologi dan Mammalogi Himbio Unpad yang dilaksanakan pada 13 Maret 2016 di Taman Hutan Raya Ir. Djuanda.

        Acara pengamatan diawali dengan pematerian singkat dari teteh angkatan 2011 yang kece badaai namanya teh Gammi Puspita. Isi pemateriannya tentang metode penelitian dan hal2 yang harus disiapkan sebelum pengamatan burung atau bahasa kerennya Bird Watching (BW). Metode BW yang umum itu ada 3 : Point Count, Line Transect sama gabungan dari keduanya. Point Count itu caranya kita nentuin titik buat ngamatin burung, kurang lebih batas pengamatannya ± 20 meter dari tempat kita berdiri, dan untuk menentukan titik kedua, ± jaraknya 200 meter dari titik pertama. Jika menggunakan metode Line Transect, kita mengamati burung sepanjang sekian meter dari jalan (jaraknya disesuaikan). Tapi, dari ketiga metode itu, metode Poin Count yang paling sering digunakan karena penggunaannya paling sederhana. Nah, hal-hal yang harus diperhatiin ketika BW itu kita diusahakan tidak menggunakan baju warna terang dan diusahakan untuk tidak berisik, agar si burung tidak sadar keberadaan kita. Untuk  alat-alatnya, kita membutuhkan bino, field guide, dan catatan. 🙂

         Untuk lebih lengkap metode-metode yang umumnya digunakan dalam pengamatan antara lain jelajah (sigi), Line transek, Grid, dan Strip transek.

  1. Metode jelajah (sigi) merupakan metode pengamatan dengan cara mengumpulkan data primata dari tiap-tiap kawasan jelajah, sehingga tiap kawasan memiliki contoh yang menjadi pembanding dengan daerah lain.
  2. Metode line transek adalah metode pengamatan satwa mamalia besar, herbivora  (banteng, rusa dan primata) dengan membuat garis atau jalur transek pada lokasi  terpilih (areal PSP). Survai dilaksanakan  dengan mengikuti transek atau jalur dan mencatat lokasi, jumlah dan aktivitas  satwal liar yang ditemui di sepanjang jalur. Perbedaan  yang mendasar adalah metode transek garis tidak menentukan jarak ke kanan dan ke kiri, harus menentukan jarak antara satwa dan pengamat (jarak lurus) atau jarak pengamatan.a
  3. Metode Strip transek merupakan metode yang biasanya digunakan jika primata yang akan diamati mudah terlihat oleh pengamat. Metode ini dilakukan dengan cara berjalan sambil mengamati sepanjang jalur yang telah ditentukan dan mencatat semua jenis primata yang termasuk ke dalam jalur pengamatan. Umumnya lebar jalur yang dianut dalam metode ini adalah 100 meter; dengan asumsi bahwa peneliti dapat mendeteksi keberadaan primata dalam jarak 50 meter di kiri jalur dan 50 meter di kanan jalur.b.jpg c
  4. Metode grid yaitu dengan membagi kawasan menjadi beberapa grid dan mengamati individu yang ada pada setiap grid tersebut.

           Setelah pematerian, kita memulai BW. BW ini dibiming juga oleh akang dan teteh kece yaitu, kang Cipta (2013), kang Rezki (2011), kang Afif (2013), teh Nabila (2013) dan teh Hasna Silmi (2012). Mereka inilah yang membimbing kita yang masih setengah ngerti tentang BW ini, hehe. Sepanjang jalan itu kita banyak banget dengerin suara burung, tapi susah untuk ditemukanL Dan akhirnya setelah sekian menit, kita mendapatkan burung yaitu burung kacamata. Disebut demikian karena dia punya klep di sekitar matanya. Setlah itu kita mendapatkan Cekakak Jawa. Nah burung ini warna-warni buluna, di badannya ada warna biru, ungu, putih, coklat. Abis itu kita nemu walet dan alap-alap. Jadi alap itu mirip elang tapi bukan elang. Bedanya, alap-alap sayapnya lebih runcing dan sempit, paruh lebih melengkung dan pendek, gaya terbang yang cepat (390 km/jam), iris mata yang gelap dan kepala yang membulat. Kita ga dapet banyak burung di BW ini, karena padatnya wisatawan di Tahura pada saat itu, sehingga burung menghindari keramaian tersebut.

b

       Walaupun jalannya nanjak dan panasnya membara, para peserta tetep semangaat. Terlebih lagi ditemani pemandangan yang mantap banget, hehe. Ditunggu di acara ornit selanjutnya ya 🙂

13 Maret 2016 di Tahura

Divisi Ornithologi DP XXXVII

AOPU

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s