Pitfall Trap


Pitfall trap, jebakan manis untuk serangga tanah

Pitfall trap, berasal dari 3 kata yaitu pit = lubang, fall = jatuh dan trap = jebakan. Jadi secara keseluruhan pitfall trap dapat diartikan sebuah jebakan yang bertujuan untuk mendapatkan serangga yang jatuh kedalam jebakan. Pembuatan pitfall trap ini cukup mudah, hanya membutuhkan beberapa bahan dan alat yang mudah didapat.

Serangga tanah adalah serangga yang hidup didalam, ataupun dipermukaan tanah. Rata-rata serangga kelompok ini berperan sebagai dekomposer, pengurai bahan-bahan organik yang ada ditanah. Jenisnya pun banyak, mulai dari semut yang berukuran sangat kecil sampai kumbang pengumpul kotoran yang berukuran lumayan besar.
Karena jenis dari serangga tanah ini banyak, maka banyak pula jenis-jenis jebakan untuk serangga tanah. Hal ini disesuaikan dengan kesukaan makanan mereka. Karena serangga tanah tersebut akan masuk kejebakan jika mereka mencium sesuatu yang menarik mereka untuk datang. Beberapa jebakan selain pitfall trap adalah bite trap yang digunakan untuk serangga penyuka buah, malayse trap yang digunakan untuk menangkap serangga terbang, light trap untuk serangga yang hidup nokturnal, yellow pan trap untuk serangga penyuka warna kuning, dan masih banyak lagi.

Pitfall trap banyak digunakan karena dapat sekaligus dilakukan bersamaan dengan transek tumbuhan. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan trap ini adalah larutan gula yang berfungsi untuk memberikan aroma manis yang dapat menarik semut, detergen yang digunakan untuk menurunkan tegangan permukaan sehingga jika ada serangga yang masuk tidak akan bisa keluar lagi, alkohol 70 % untuk mengawetkan serangga yang masuk kedalam trap. Ketiga larutan tersebut dicampurkan dengan perbandingan larutan gula:detergen:alkohol sebanyak 2:1:1. Campuran larutan tersebut dimasukkan kedalam gelas air mineral plastik sebanyak 1/3 gelas.

Gali lubang sedalam ukuran gelas air mineral tersebut hingga gelas air mineral dapat mask sejajar dengan permukaan tanah. Rapihkan kembali daun-daun yang berserakan atau tanah bekas galian hingga tidak mencurigakan bagi serangga. Serangga akan menganggap tidak ada apapun disana karena sekitar trap seoerti tanah biasa.

Dibuat dari kardus dengan ukuran 10 x 10 untuk membuat penutup diatas trap agar tidak rusak terkena hujan atau yang lain-lainnya. Jebakan lain yang yang dapat mengundang serangga adalah kotoran sapi. Kotoran sapi tersebut di bungkus dengan kain kassa, dan digantungkan pada atap kardus. Kotoran sapi akan menghasilkan bau yang khas, sehingga serangga seperti serangga pengumpul kotoran dapat mencium baunya dan terjebak dalam trap.

Selain menggunakan bahan-bahan diatas, pada pitfaal trap juga dapat menggunakan bahan lain diantaranya bangkai ikan. Bedanya terletak pada hasil tangkapan. Pada pitfall yang menggunakan komposisi cairan, serangga yang didapat akan dalam bentuk basah, sehingga tidak menutup kemungkinan serangga tersebut rusak karena ada komposisi detergen. Sementara pada yang menggunakan bangkai, akan menghasilkan serangga yang masih dalam keadaan hidup.
Pengamatan dilakukan selama 24 jam. Setelah 24 jam, kita baru bisa mengambil pitfall trap tersebut dan melihat apa saja yang ada didalamnya. Kekurangan dari pitfall trap adalah trap hanya dilindungi oleh selembar kardus yang disangga. Jika hujan maka kemungkinan trap tersebut akan rusak. Tapi, trap ini cukup memuaskan karena tim entomologi mencobanya pada tanggal 24 Mei 2015.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s