Trip to Aspinall Foundation


Halo teman-teman, tidak terasa sudah menginjak bulan Maret juga ya. Alhamdulillah pada awal Maret kemarin, kami dari Divisi Mammalogi DP XXXVI Himbio Unpad telah melaksanakan sebuah kegiatan perdana dari serangkaian The Series of Primates yaitu Trip to Aspinall Foundation, Ciwidey 🙂

Beranggotakan 4 orang ditambah 13 peserta, kami pergi ke Ciwidey pukul 06.00 dari Jatinangor. Selama perjalanan kami habiskan dengan tidur karena perjalanan dirasa akan cukup panjang mengingat kami naik mobil, bukan naik motor yang dapat menghalau jalanan ketika macet. Namun alhamdulillah kami sampai disana lebih cepat dari perkiraan. Kami hanya menempuh 1 jam 40 menit perjalanan padahal saat survey kami menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke sana ckck.

image

Singkat cerita, seseorang menghampiri kami. Itulah Kang Sigit. Bisa dibilang beliau adalah leader of keeper and officer di Aspinall. Setelah bercakap sebentar kami lanjutkan perjalanan.

Lalu kami diajak ke dapur. Disitu sudah ada emak yang telah menyiapkan teko berisi air panas dan gelas yang tersusun rapi. Di bangku dapur kami semua duduk, Kang Sigit siap bercerita dan the story was begun…

Aspinall Foundation
Sebenarnya tempat yang kami kunjungi bernama Pusat Rehabilitasi Primata Jawa yang disokong oleh 3 badan yaitu Perum Perhutani, BKSDA, dan Aspinall Foundation, namun Aspinall merupakan badan yang bersifat sebagai pelaksana dari proses rehabilitasi satwanya. Aspinall ini bersifat titip rawat, artinya satwa yang ada disini merupakan satwa titipan dibawah kelola BKSDA (entah itu hasil sita dari pemilik, didatangkan dari kebun binatang luar negeri, dll) dan Aspinall bertugas merawat/ merehabilitasinya hingga satwa kembali pada sifat aslinya yang liar meski tidak 100%

image

Kita ketahui bahwa terdapat 5 primata endemik yakni Macaca fascicularis (Monyet Ekor Panjang), Nycticebus coucang (Kukang Jawa), Trachypithecus auratus (Lutung Jawa), Hylobates moloch (Owa Jawa), dan Presbytis comata

(Surili). Dari kelima primata tersebut hanya3 yang saat ini ada di Aspinall yaitu Owa Jawa, Lutung Jawa, dan Surili.

Deskripsi tentang 3 Primata Endemik
1. Owa Jawa
Bersifat monogami, dominan memakan buah, daya ingat cukup baik, tidak memiliki ekor, 1 kelompok berkisar 1-4 individu, jarak kehamilan 4bulan, masa kehamilan 6 bulan, satwa arboreal, bayi akan menempel pada induk selama 4 bulan. Termasuk satwa yang dilindungi.

2. Lutung Jawa
Di Aspinall terdapat 2 subspesies yaitu T. auratus auratus dari Jawa Timur yang mempunyai ujung rambut berwarna silver dan T. auratus mauritius dari Jawa Barat yang berwarna rambut pekat. 60 % memakan daun, sedikit buah, insekta, dan mineral tanah. 1 kelompok dapat terdiri dari 7-20 individu. Satwa arboreal. Terancam punah.

3. Surili
Pemakan 80 % daun muda, kulit pohon dan bunga. Satu kelompok terdiri dari 7-10 individu. Multifemale. Terancam punah.

Bagaimana proses rehabilitasi satwa di Aspinall Foundation?

Pertama-tama satwa yang datang akan dikarantina dalam ruangan beralaskan keramik berukuran 2.5x 2.5 m selama 3 bulan. Selama karantina dipantau dokter hewan,dibius, diambil darah untuk pengecekan penyakit, dilihat gigi untuk menentukan umur, dilihat matanya.Setelah karantina dipindahkan ke kandang sosialisasi. Kandang sosialisasi ini bisa berbentuk jaring atau open top enclosure. Waktu di kandang sosialisasi ini tidak menentu, tergantung satwa cepat berubah atau tidak. Seekor satwa bernama Regina memerlukan 2 tahun. Indikator dari perubahan tersebut antara lain pola makan, perilaku makan, dll. Tahap berikutnya yaitu pairing yaitu dicarikan pasangan yang tepat. Tandanya tepat yaitu mereka dapat berkembang biak dan menghasilkan anak serta tidak saling menyakiti. Tahap berikutnya adalah penyiapan lokasi untuk pelepasliaran. Dipastikan di lokasi tersebut ada makanan dan bebas dari predator. Selain itu lokasi harus ditinjau dari segi etnoprimatologi. Jangan sampai kita melepaskan mereka di kawasan masyarakat pemburu. Setelah semua dinilai siap, satwa siap di release.

Pemberian makan satwa?

Pemberian makan pada satwa dilakukan 3 x sehari pada jam 7 pagi, 11 siang, dan 3 sore. Biasanya makanan yang diberikan berupa sayur buah seperti ubi, kangkung, jeruk, jambu mentah, sirsak, dll. Diberikan juga madu dan telur puyuh. Makanan harus dipotong dan ditimbang dulu.

Enrichment?

Berfungsi sebagai latihan. Bisa berupa boneka predator untuk mengenalkan predator yang ada di alam disimpan di depan kandang, ditarik ulur pakai tali, atau dipasang perekam suara asli satwa predator. Diberikan juga bola takraw dan boneka monyet untuk para bayi.
Apa saja yang kami lakukan disana?
Mula-mulakami dibagi kelompok menjadi 2 untuk menyusuri kandang. Kami bisa melihat primata tersebut dari jarak dekat. Selain itu kami diajak untuk memberi makan satwa. Lalu di akhir kami diajak untuk membersihkan kandang satwa.

Penyakit apa saja yang biasanya menyerang primata?
TBC, Herpes, Jantung, Perut kembung, Paru-Paru, Demam, Hepatitis, dll.

Kegiatan terakhir kami adalah membersihkan kandang. Setelah itu kami melakukan evalusi di dapur. Poin terpenting adalah jangan terlalu ribut karena akan mengganggu satwa disana. Setelah itu kami berfoto bersama para keeper, kang Mamat, dan Kang Kiki serta ada pemberian plakat. Akhirnya jam 15.30 kami meluncur dari Aspinall menuju Jatinangor dan sampai sekitar jam 18.00 dengan selamat.
Thanks to Aspinall Foundation!

The Series of Primates belum berakhir. Ikuti terus kegiatannya dan dapatkan ilmunya. Save our primates! 🙂
(am)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s