Mammal in Sancang !!

on

PRE-FIELD TRIP TO SANCANG

TAHURA PART 1, 28 May 2011

Sancang. Adalah kata pertama yang kami dengar saat bertanya kemana kita akan pergi untuk field trip. Untuk pemberitahuan singkat, Sancang adalah daerah di Garut Selatan yang hutannya dianggap keramat oleh penduduk local. Dan, untuk itu kami dari Divisi Mammalogi mempersiapkan pelatihan-pelatihan untuk persiapan field trip ke Sancang. Pelatihan pertama kami yang ditujukan untuk OPEN HOUSE dilaksanakan di Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Dago Pakar (untuk kemudahan kedepannya disebut Tahura Dago). Kami mengadakan pelatihan pertama ini untuk melihat dan merekrut siapa saja orang yang memang berminat untuk field trip ke Sancangnya nanti. Kami mengadakan pelatihan pertama ini bersamaan dengan Divisi Ornithologi. Satu minggu sebelum perlatihan, kami mengadakan survey terlebih dahulu bersama-sama dengan Divisi Ornithologi. Setelah semua persiapan selesai, mulailah kami mempublikasikan acara kami. Dan, tibalah hari yang ditunggu. Hari dimana kami akan melaksanakan program kerja pertama kami sebagai Dewan Pengurus XXXII HIMBIO UNPAD. Kami berkumpul di PANGDAM Jatinangor dan berangkat bersama-sama dengan para peserta yang berdomisili di Jatinangor dan sekitarnya. Kami menggunakan DAMRI jurusan D.U.-Jatinangor untuk sampai ke Bandung. Setelah kami tiba di Dipati Ukur, kami berkumpul dengan teman-teman dan para peserta yang berangkat dari Bandung untuk bersama-sama pergi ke Tahura Dago. Setelah tawar-menawar dengan supir angkot, kami menyarter angkot untuk bisa sampai langsung ke Dago Pakar. Dan tibalah kami di Tahura Dago. Disana sudah menunggu teman-teman yang menggunakan kendaraan pribadi. Setelah berkumpul dan mengatur tempat, kami masuk ke dalam Tahura Dago, setelah membayar tiket tentunya. Disana, kami berpisah dengan teman-teman dari Divisi Ornithologi karena sebelumnya, kami akan menerima materi dari pemateri yang kami undang. Kami dari Divisi Mammalogi mengundang Teh Dewi angkatan 2006 untuk menjadi pemateri kami pada hari itu. Teh Dewi juga mengajak temannya sebagai asisten, yaitu Kang Ayub angkatan 2006 dan Kang Radik angkatan 2006. Setelah kami menerima materi dari Teh Dewi, kami langsung bersiap untuk memulai pelatihan kami pada hari itu. Kegiatan yang akan kami lakukan pada hari itu adalah Mammal Watching, kami akan belajar untuk melihat mamalia dari jauh tanpa mengusik keberadaan mereka, kami belajar cara menggunakan binocular, dan juga belajar untuk mengenali macam-macam mamalia. Kami mulai berjalan dari Dago Pakar sampai Maribaya, disana kami melihat bajing liar, anjing dan kuda milik warga, dan primata yang menjadi primadona pada hari itu, Monyet Ekor Panjang. Setelah kami sampai di Maribaya, waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang, karena itu kami beristirahat, sholat, dan makan bekal maupun beli di warung yang ada di Maribaya. Setelah kami selesai beristirahat, kami melanjutkan kegiatan kami. Kami memulai evaluasi perjalanan kami dan apa yang kami temukan. Setelah evaluasi, Teh Dewi, Kang Radik, dan Kang Ayub mulai bergantian memberikan penjelasan dan materi kepada kami. Setlelah pemberian materi selesai, kami kedatangan tamu dari International Animal Rescue (IAR), dengan Teh Winar angkatan 1998 yang juga merupakan alumni biologi kami. Teh Winar mulai memberikan penjelasan mengenai Kukang kepada kami, bagaimana pentingnya Kukang itu dan bagaimana kami bisa membantu untuk melindungi Kukang yang merupakan primata pulau Jawa yang dilindungi karena terancam punah. Setelah kami menerima materi tersebut, kami berpamitan dengan para akang dan teteh yang sudah menjadi pemateri kami pada hari itu. Kami pun berangkat pulang dengan angkot yang sudah kami carter. Kami menggunakan angkot sampai Dipati Ukur dan berpisah dengan teman-teman yang rumahnya di Bandung. Lalu kami kembali menggunakan DAMRI untuk bisa pulang ke Jatinangor. Kami merasa lelah karena harus berjalan dari Dago Pakar sampai Maribaya, tetapi ini adalah salah satu pengalaman kami yang akan kami kenang dan simpan.

BASIC ECOLOGY TRAINING AT D2, 20 June 2011

Setelah kami mendapat ilmu dari pelatihan kami yang pertama, alangkah baiknya kami memperdalam ilmu kami. Bagaimanapun juga, kami akan dan harus mengaplikasikan ilmu kami saat di Sancang nanti. Karena itulah kami mengadakan pelatihan kedua mengenai Ekologi Dasar di gedung biologi kami yang tercinta, gedung D2. Kami dari Divisi Mammalogi mengundang Kang Hafif angkatan 2007 untuk menjadi pemateri kami pada hari itu. Jumlah peserta kami berkurang, tetapi hal itu tidak menjadi masalah, karena kami memang ingin mengajak orang-orang yang memang ingin serius untuk ikut pelatihan dan field trip nanti. Pelatihan berlangsung agak terlambat, karena itulah saat semua peserta sudah berkumpul kami langsung memulai pelatihan. Kang Hafif pun mulai untuk mengirim ilmunya kepada kami semua. Setelah selesai, sesi tanya jawab pun berlangsung, kami memuaskan diri kami untuk bertanya sepuasnya kepada Kang Hafif agar materi yang diberikan tadi tidak sia-sia dan melekat kedalam otak kami. Setelah menjawab semua pertanyaan, Kang Hafif pun menyudahi pelatihan dan materi pada hari itu, dan kami pun menutup kegiatan pelatihan pada hari itu. Pelatihan kedua sudah kami laksanakan, hari menjelang field trip semakin mendekat.

TAHURA PART 2, 16 July 2011

Pelatihan ketiga. Peserta berkurang menjadi 5 orang. Kami dari Divisi Mammalogi, Emilio de la Rosa, Fuji Aprianti, dan Tika Nurmala, kami juga dibantu oleh Erry Sasmi dan Erwin Faizal. Terbentuklah tim field trip ke Sancang di Divisi Mammalogi yang berjumlah lima orang. Pelatihan yang ketiga dan terakhir sebelum berangkat ke Sancang ini bertempat di Tahura Dago Pakar, dan lebih tempatnya di Maribaya. Karena kami hanya berlima, kami menggunakan kendaraan masing-masing untuk pergi ke Tahura. Sebelumnya kami bertemu dahulu dengan pemateri kami di Simpang Dago, yaitu Kang Radik angkatan 2006 dan Kang Ayub angkatan 2006. Barulah kami berangkat ke Tahura. Tetapi, kami tidak pergi ke Tahura Dago Pakar, tetapi kami langsung berangkat ke Maribaya untuk langsung memulai pelatihan kami disana. Pelatihan kami yang ketiga ini bertujuan untuk mengaplikasikan dan simulasi dari materi-materi yang kami telah terima sebelumnya di lapangan lansung. Dan objek pelatihan kami kali ini tidak lain adalah Monyet Ekor Panjang. Setelah kami sampai di parkiran Maribaya, kami langsung masuk kedalam dan membayar tiket masuk. Setelah itu, kami memulai dengan review materi yang sudah kami dapat, setelah itu, kami mulai diberikan materi oleh akang-akang pemateri. Setelah kami mendapat materi, kami langsung memulai pengamatan dan mencoba mengaplikasikan ilmu yang telah kami dapat. Waktu menunjukan pukul sebelas siang, kami beristirahat dan makan sebentar, setelah itu kami mengevaluasi hasil pelatihan kami. Kami mendapat banyak sekali materi dan saran-saran dari pemateri. Setelah selesai kami mendapat materi, kami pun menutup acara pada hari itu dan pulang bersama-sama. Pelatihan pun selesai, kami mulai bersiap untuk field trip ke Sancang. Kami mencoba merangkum dan mengingat kembali apa yang sudah disampaikan oleh akang dan teteh pemateri, dan tidak lupa ditambah doa tentunya.

D-DAY! SANCANG!

1st day, 18 July 2011

Hari terlihat gelap, tetapi secara perlahan dan pasti matahari mulai menyambut hari. Pagi telah datang, ini berarti, waktu keberangkatan kami semakin dekat. Kami dari tim mammalogi sudah bersiap-siap dari hari sebelumnya. Dengan briefing yang dilakukan terlebih dahulu pada hari minggu, kami pun telah mempersiapkan alat-alat yang nanti akan kami gunakan. Dalam field trip ke Sancang ini, kami ditemani oleh Kang Radik angkatan 2006 dan Kang Hafif angkatan 2007 yang dua-duanya telah menjadi pemateri kami saat pelatihan, kami akan sangat membutuhkan bimbingan dari mereka saat dilapangan. Alat-alat yang kami gunakan tidaklah terlalu merepotkan, hanya membutuhkan binoculer yang berkualitas baik, buku tulis lapangan, alat tulis, dan satu set baju lapangan yang baik dan tidak mencolok. Upacara pelepasan pun berlangsung. Doa pembuka dan kata-kata motivasi yang membantu kami untuk tetap semangat telah kami telan. Upacara pelepasan oleh jurusan selesai. Saatnya kami bersiap-siap untuk berangkat. Kami menggunakan kendaraan umum alias angkot yang telah kami carter, kami pun berangkat dari gedung kampus. Berangkatlah kami ke Dangdeur. Angkot yang penuh sesak dengan barang bawaan kami tidak membuat kami patah semangat ataupun merasa tidak nyaman, justru sebaliknya, kami semakin semangat. Tibalah kami di Dangdeur, disana kami menurunkan barang bawaan kami dan mengecek ulang apakah ada barang bawaan yang tertinggal. Setelah kami sudah mengeluarkan semua barang bawaan kami, kami bersiap untuk menaiki bis yang akan menuju Garut, karena disanalah elf carteran kami akan menunggu. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami didepan sebuah SMA negeri, disana kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak dan makan jajanan yang ada di depan sekolah. Setelah cukup lama ditunggu, elf yang akan mengantar kita pun datang. Kami segera menaikan barang-barang ke dalam elf, walaupun sebagian besar ditaruh diatas elf dan diikat dengan tali saja, kami mencoba untuk mencari tempat supaya bisa menaruh beberapa barang didalam. Setelah semua barang telah dimasukan, dimulailah perjalanan yang cukup panjang sampai ke Sancang. Di tengah-tengah perjalanan, supir dan kenek sering memasukan orang lagi ke dalam elf, jadi bukan hanya kita saja yang pergi ke sancang dengan elf itu. Walaupun sudah memakai dua elf, tetap saja terasa sempit. Perjalanan untuk bisa sampai ke Sancang cukup melelahkan. Medan yang naik turun bukit, angin perjalanan yang dingin terus menerpa, dan jalanan yang rusak adalah medan yang kami tempuh untuk bisa sampai ke Sancang. Tidak sedikit dari kami yang mulai meminum obat anti mabuk perjalanan dan obat untuk mengatasi masuk angin. Di tengah-tengah perjalanan tentunya kami berhenti untuk beristirahat. Dan kami segera memanfaatkan waktu istirahat tersebut dengan makan dan meluruskan kaki yang pegalnya sudah terasa sampai ke pinggang. Setelah lima jam perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami pun tiba di Desa Sancang tempat kami akan tinggal nanti. Kami menyewa rumah warga yang bernama Kang Sonny untuk menjadi basecamp kami dan tempat untuk bermalam dan menaruh barang-barang kami. Malam telah tiba, kami segera membereskan barang-barang kami, setelah itu, kami briefing singkat untuk esok harinya yang dipimpin oleh Ryan, ketua pelaksana field trip ini, dan setelah itu kami melanjutkannya dengan briefing singkat dengan Kang Radik yang menjadi pembimbing lapangan kami. Bagaimana dengan Kang Hafif? Kang Hafif belum sampai, karena Kang Hafif baru akan berangkat keesokan harinya di hari yang kedua. Setelah briefing selesai, kami bersiap untuk beristirahat, karena keesokan harinya kami harus bangun pagi untuk memulai acara di hari kedua. Kami pun memejamkan mata.

2nd day, 19 July 2011

Orientasi medan. Itu adalah acara dan tema kita pada hari kedua di Sancang ini. Kami harus bisa menentukan dimana kami akan melakukan penelitian dan waktu-waktu penelitian kami. Karena kami akan menghitung populasi dari Lutung (Trachypithecus auratus) dan karena menurut literatur dan informasi dari penduduk lokal bahwa lutung adalah hewan yang beraktifitas cukup pagi, maka kami tidak boleh terlambat untuk bisa melihat keberadaan lutung tersebut. Kami mulai bangun pukul 04.30 dan bersiap-siap sampai 05.00. Setelah briefing singkat dan doa yang kami panjatkan, kami memulai hari itu dengan penuh semangat dan harapan untuk bisa menemukan tempat-tempat lutung itu berada. Menurut informasi dari penduduk lokal dan Kang Sonny yang memang penduduk Sancang, ada tiga kelompok lutung di Leuweung Sancang, kami akan berusaha untuk bisa menghitung semua populasinya. Perjalanan pun kami mulai. Setelah kurang lebih 30 menit, sampailah kami di spot pertama, daerah tangga atas Sungai Ciporeang. Disana setelah kami mengamati vegetasi sekitar, kami berhasil menemukan satu individu lutung yang sedang mencari makan. Kami memperkirakan, disinilah tempat kelompok lutung tersebut mencari makan. Kami pun melanjutkan perjalanan sampai ke daerah Cikajayaan, disana kami memutuskan untuk beristirahat sebentar. Setelah kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan untuk masuk lebih dalam lagi ke daerah Cikajayaan. Dan memang benar, kami menemukan satu kelompok lutung lagi di daerah Cikajayaan. Tempat langsung kami tandai, agar kami bisa langsung kesini lagi keesokan harinya. Kami melanjutkan perjalanan sampai ke pantai, disana kami mencoba untuk masuk ke dalam hutan-hutan pinggir pantainya denga harapan bisa menemukan kelompok lutung yang lain. Tetapi usaha kami tidak membuahkan hasil, karena tidak menemukan kelompok lutung yang ketiga. Kami pun memutuskan untuk bertanya kepada penduduk lokal yang ada di pantai, menurut mereka, lutung yang ada disekitar pantai akan keluar pada sore hari. Karena itulah, untuk menunggu sore hari, kami memutuskan untuk menjelajahi daerah sekitar pantai dan hutan-hutan pinggir pantainya, walaupun begitu, tetap saja kami tidak menemukan lutung satupun. Hari sudah mulai sore, kami mulai bersiap mengambil posisi agar bisa mengamati lutung dengan baik. Kami menunggu cukup lama sampai pukul 17.30 dan tidak ada satu lutung pun yang tampak. Kami kecewa dan pulang ke basecamp dengan penuh kecemasan. Sesampainya di basecamp, kami menaruh barang dan briefing untuk esok harinya, kami memutuskan untuk tetap mencari sebisa kami agar bisa menemukan kelompok lutung yang ketiga dan tidak lupa juga untuk tetap mengerjakan penelitian kami. Setelah briefing, kami memutuskan untuk beristirahat. Air. Kami tidak mengenal air di sini. Air kering dan sangat sedikit, jadi hanya kami gunakan untuk wudhu dan buang air saja. Untuk mandi? Kami tidak mandi. Malam pun semakin larut, hari kedua di Sancang telah kami lewati.

3rd day, 20 July 2011

Hari ketiga telah datang. Dimulailah hari pertama penelitian kami. Seperti kemarin, kami bangun pagi dan langsung bersiap untuk berangkat. Tetapi kami bangun agak terlamabat kali ini, kami baru berangkat pukul 05.30 pagi. Diawali dengan doa dan briefing singkat, penelitian pun kami mulai. Dengan segera kami menuju daerah tangga atas Sungai Ciporeang, kami berharap lutung disana masih beraktifitas. Sesampainya disana, kami segera mengambil tempat untuk pengamatan. 15 menit berlalu, 30 menit berlalu, tidak ada satu lutung pun yang tampak. Kami mencoba untuk pindah tempat ke daerah yang lebih dekat dengan sungai. 30 menit berlalu, 45 menit berlalu, tidak ada satu lutung pun yang datang. Kami panik. Tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan sampai Cikajayaan. Di pinggir sungai Ciporeang, kami memecah tim kami menjadi dua, satu tim akan mengambil rute yang sama seperti kemarin dan satu tim lagi akan menyusuri Sungai Ciporeang untuk mengejar lutung. Kami memutuskan untuk memecah tim kami karena mendapat laporan dari tim Ornithologi bahwa mereka melihat lutung di pinggiran Sungai Ciporeang bagian atas. Mungkin yang dilihat adalah kelompok lutung yang sama yang kami temukan kemarin, karena itulah tidak ada ruginya untuk melihat. Tim kami pun berpisah, dan tim yang ke Cikajayaan menemukan kelompok lutung yang kami tandai kemarin. Kami menemukan 9 individu lutung. Harapan dan semangat kami pun naik kembali. Berbeda dengan tim yang menyusuri Sungai Ciporeang, tidak ada satu lutung pun yang terlihat. Kami pun mencoba melanjutkan perjalanan untuk mencari lutung di daerah sekitar pantai. Kami menyusuri semua jalan setapak yang ada dan tidak ada satu lutung pun yang kami jumpai. Hari sudah mulai sore, kami memutuskan untuk kembali ke Sungai Ciporeang untuk melihat apakah kelompok lutung daerah tangga atas kembali beraktifitas ditempat yang sama, ternyata tidak ada yang terlihat. Kami memutuskan untuk beristirahat di Sungai Ciporeang baru kembali ke basecamp. Sesampainya di basecamp, kami evaluasi dan briefing untuk besok. Besok adalah hari terakhir penelitian kami. Karena itulah, supaya dapat menemukan kelompok lutung daerah pantai, kami akan mencoba untuk pergi ke daerah Cibako, menurut warga, disana terdapat satu kelompok lutung. Ini adalah hari terakhir Kang Radik dan Kang Hafif membimbing kami, mereka akan kembali ke Jatinangor esok pagi. Kami mengucapkan banyak sekali terima kasih atas bimbingan mereka dan bantuan mereka dan mendoakan mereka agar perjalanannya dilancarkan. Malam ketiga pun datang, kami memutuskan untuk beristirahat. Besok, kami akan all-out.

4th day, 21 July 2011

Hari penelitian kedua kami. Kami akan all-out dalam hari penelitian terakhir kami ini. Karena itulah, kami berusaha berangkat lebih pagi dari kemarin. Setelah doa dan briefing singkat, kami memulai perjalanan kami, waktu menunjukan pukul 05.15, kami semua berharap untuk bisa menyelesaikan penelitian kami dengan baik. Tujuan pertama kami adalah daerah tangga atas Sungai Ciporeang, rasa penasaran meliputi kami, apakah yang salah, mengapa kami tidak bisa menemukan kembali kelompok lutung yang kami temukan saat orientasi medan. Setelah sampai, kami mencoba berbagai tempat pengamatan. Kami menunggu selama hampir satu setengah jam lebih dan tetap saja tidak ada lutung yang datang. Terus terang, saat itu kami putus asa dan menyerah dengan spot daerah tangga atas Sungai Ciporeang. Karena itulah kami langsung melanjutkan perjalanan sampai ke Sungai Ciporeang dan mencoba menyusuri Sungai Ciporeang sampai ke bagian atas. Kami mencoba menyusuri sampai tidak ada lagi batu untuk pijakan dan menunggu disitu. Kami menunggu hampir selama dua jam. Kami pasrah. Tidak ada satu pun yang datang. Karena itulah, kami memutuskan untuk langsung menuju daerah Cibako. Jarak dari Sungai Ciporeang sampai Cibako cukup jauh. Kami beristirahat dan makan siang ditengah perjalanan di pinggir pantai. Setelah nasi dan lauk kami nikmati, kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Dan akhirnya, sampailah kami di daerah Cibako. Cibako adalah daerah yang banyak sekali tanaman bakaunya, baik true mangrove ataupun associate mangrove. Tantangannya adalah, kami belum pernah orientasi medan kesini, karena itulah kami hanya bisa menggunakan jalan setapak yang ada dan menandai tempat-tempat yang kami lewati. Kami mulai memasuki daerah hutan di Cibako, kami mencoba berkeliling dan mencoba-coba jalan setapak yang ada. Kami sempat sampai di jalan buntu Sungai Cibako karena tidak ada lagi batu untuk berpijak. Kami kembali dan mencoba jalan setapak yang lain. Dan bukannya kami menemukan lutung, malahan kami menemukan seekor Monyet Ekor Panjang yang sedang mencari makan. Tanpa kami gubris lebih lanjut, pencarian kami pun berlanjut. Waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Jarak dari Cibako sampai basecamp cukup jauh, kami tidak ingin kemalaman di jalan. Karena itulah kami memutuskan untuk kembali. Kami berjalan dengan kaki yang lemas dan lelah. Saat kami sedang berjalan, terdengar suara daun dan pohon yang bergoyang. Suara seperti ini, sangat familiar rasanya. Dan disanalah terlihat satu kelompok lutung yang sedang beristirahat. Kami langsung mengeluarkan buku catatan kami dan mulai menghitung dan mengambil dokumentasi dari foto-foto lutung yang bisa kami foto. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Salah satu dari lutung mulai menyadari keberadaan kami dan memperingatkan lutung yang lain sehingga mereka pergi menjauh. Kami sudah sempat mencatat hasil dan jumlah dari individu di kelompok lutung tadi, jumlah total yang kami hitung adalah 9 individu lutung. Secercah harapan pun timbul kembali, karena dengan ini, kami berhasil menghitung dua kelompok lutung dari tiga kelompok yang diketahui dan perjalanan panjang kami untuk bisa sampai ke Cibako terbayar dengan manis. Karena itulah, kami memutuskan untuk menyudahi hari itu dan kembali ke basecamp. Saat di tengah perjalanan, kami memutuskan, karena ini adalah hari terakhir, kami akan pergi ke Sungai Ciporeang untuk berendam dan beristirahaat, dan juga untuk merayakan penemuan kami tadi di Sungai Cibako, karena ternyata kelompok lutung di daerah pantai adalah kelompok lutung yang ada di daerah Sungai Cibako. Saat kami sedang berjalan santai di daerah tangga atas Sungai Ciporeang, terdengar kembali suara tadi. Suara daun dan pohon yang bergoyang dan bergesekan satu sama lain yang terdengar sangatlah familiar. Dan disanalah tampak sekelompok lutung yang kami cari dari kemarin, yang tidak kami lihat kemarin, yang tidak terdengar dan tidak datang saat kami sudah bersiap dan menunggu dari pagi-pagi sekali. Disitulah tampak kelompok lutung daerah tangga atas Sungai Ciporeang. Tanpa banyak basa-basi, kami dengan cepat mengeluarkan buku, mencatat dan menghitung semua yang kami lihat dan jumlah yang dapat kami hitung. Jumlah dari individu kelompok lutung daerah tangga atas Sungai Ciporeang adalah 7 individu lutung. Kami dengan perasaan lega mengamati dan menghitung kelompok lutung tersebut. Kami terpesona dengan cara lutung tersebut berayun dari satu pohon ke pohon yang lain, bagaimana lutung tersebut memanjat pohon yang sangat tinggi sekali, dan bagaimana lutung tersebut mencari makan dari buah-buah pohon disekitarnya. Kami terdiam sampai salah satu lutung memperhatikan kami dan merasa terancam dengan keberadaan kami sehingga memperingatkan teman sekelompoknya. Kelompok lutung itupun pergi ke dalam hutan. Setelah itu, kami tetap melanjutkan perjalanan untuk sampai ke Sungai Ciporeang. Kami berjalan gontai. Kami lelah, lemas, letih, tapi puas dan senang karena akhirnya kami bisa menemukan kelompok lutung yang diduga berjumlah tiga kelompok di Leuweung Sancang ini dan kami menemukan ketiganya. Kami pun beristirahat dan berendam di Sungai Ciporeang. Menikmati indahnya dan asrinya Leuweung Sancang ini. Hutan yang sempat dibalak liar tetapi masih berpotensi sangat tinggi dan sedang dalam masa rehabilitasinya. Sore dan malam harinya kami habiskan dengan evaluasi singkat dan acara santai yang menyenangkan. Kami akhirnya bisa menyelesaikan hari keempat di Sancang ini. Kami pun beristirahat dengan lelapnya. Bukan hanya karena lelah akibat seharian jalan kaki mengelilingi Leuweung Sancang ini, tapi juga karena perasaan lega berhasil menyelesaikan dan mendapatkan data penelitian dengan baik. Malam keempat, malam terakhir kami berada di Sancang. Entah kenapa, disaat malam terakhir ini, kami semua susah untuk tidur. Apakah kami akan merindukan tempat ini? Yang pasti banyak sekali pengalaman yang kami dapat selama empat hari disini.

5th day, 22 July 2011

Take off. Kami akan berangkat dari Sancang ini untuk kembali ke Garut pukul lima pagi. Kami kembali menggunakan elf untuk bisa sampai ke Garut, tetapi mobil elf yang akan menjemput kami baru tiba pukul enam pagi. Pada pagi hari itu, kami melaksanakan upacara penutupan untuk menandai berakhrinya kegiatan field trip kami di Sancang ini. Setelah upacara, kami berpamitan dengan warga sekitar yang sudah membantu kami dalam field trip ini. Tidak lupa juga kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Kang Sonny yang telah memberikan kami tempat tinggal. Seusai kami berpamitan, kami pun masuk ke dalam elf dan memasukan barang-barang ke dalam elf dan berangkat ke Garut. Perjalanan pulang kali ini, kami semua terlihat letih. Entah kenapa, kami merasa perjalanan pulang ini lebih melelahkan dibandingkan saat kami berangkat pergi ke Sancang, padahal kami menggunakan rute yang sama. Kami juga berhenti di tempat makan untuk beristirahat lalu melanjutkan perjalanan kembali. Kami sampai di Garut sekitar pukul 12 siang, disana kami beristirahat kembali sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Jatinangor. Setelah kami beristirahat dan shalat, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bis untuk sampai di Jatinangor, dan kami sampai di Dangdeur sore hari dan menyarter angkot untuk sampai ke kampus lagi. Sesampainya di kampus, hari sudah sore, dan kami langsung membereskan barang-barang yang kami bawa saat ke Sancang. Kami evaluasi singkat lalu membereskan barang dan alat-alat yang kami gunakan. Setelah semua alat telah tersusun rapih, kami membersihkan barang bawaan kami dan beristirahat sebentar. Setelah itu kami pun kembali ke rumah atau kos kami masing-masing. Lima hari ini sangatlah berkesan. Kami bertemu dengan teman-teman baru, orang-orang baru, mendapat banyak sekali pelajaran berharga, dan mendapatkan berbagai wawasan-wawasan baru yang belum tentu bisa kami dapatkan setiap harinya. Karena itulah, kami berharap bisa menyelesaikan laporan dengan baik dan mengolah data penelitian kami dengan baik, agar usaha dan kerja keras kami juga terbayar dengan baik. Tim mammalogi belajar banyak sekali hal dan semoga bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya dan terus maju dalam berbagai hal. Satu hal yang bisa disimpulkan dari field trip kami ke Desa Sancang, jangan pernah malu dan berhenti belajar dari siapapun, apapun, dan dimanapun. Terima kasih Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s