Sebagian besar benteng sejarah di Indonesia rusak


Oleh: Administrator

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/403/sebagian-besar-benteng-sejarah-di-indonesia-rusak

Sebagian besar benteng sejarah di Indonesia rusakAulia Mubaroq/Fotokita.net 

Sekitar 90 persen dari 442 benteng di Indonesia musnah, rusak, dan beralih fungsi. Tim dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala kini tengah mengkaji pemanfaatan benteng-benteng tersebut.
Direktur Peninggalan Purbakala pada Kementerian Budaya dan Pariwisata, Junus Satrio Atmodjo, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/1), mengatakan benteng-benteng berupapilbox atau bunker peninggalan Perang Dunia II yang ada di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, umumnya musnah karena telah menjadi perkebunan.
Adapun sekitar 50 persen dari 37 benteng peninggalan Perang Diponegoro (1825-1830) di Pulau Jawa rusak dan terbengkalai. Sementara sisanya yang masih berkondisi baik justru dimanfaatkan warga untuk sarang walet, seperti Benteng Pendem dan Willem I di Kecamatan Ambarawa, Jawa Tengah. Ada pula sejumlah benteng yang kini difungsikan untuk rumah tahanan dan markas militer.
Menurut Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Aurora Frida Tambunan, timnya tengah merumuskan langkah yang paling tepat untuk pemanfaatan benteng-benteng tersebut.
“Hasil rekomendasi akan kami berikan pada setiap kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota paling lambat pertengahan tahun ini,” tutur Aurora, seusai membuka pameran bertajuk “Benteng-Benteng: Dulu, Kini, dan Esok” di Benteng Fort Rotterdam, Makassar.
Rekomendasi itu diharapkan menjadi pedoman para pemangku kebijakan di setiap wilayah dalam membenahi kondisi benteng. Ia berharap pelestarian itu nantinya dilakukan dengan mengedepankan pemanfaatan potensi benteng. Metode tersebut akan membuat benteng memiliki nilai ekonomis yang dapat digunakan untuk membiayai pelestarian.
Beberapa benteng yang kondisinya baik dan bernilai ekonomis, antara lain Benteng Vredeburg (Yogyakarta), Vastenburg (Solo), Fort Van Der Capellen (Batusangkar), Marlborough (Bengkulu), dan Fort Rotterdam (Makassar).
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, baru saja menyelesaikan revitalisasi tahap I Benteng Fort Rotterdam tahun lalu. Biaya sebesar Rp10 miliar digunakan untuk menata tampilan fisik benteng dan merobohkan gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang berlokasi di sebelah selatan benteng.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Syuaib Mallombasi, revitalisasi tahap II akan dilanjutkan tahun ini dengan merobohkan gedung Radio Republik Indonesia yang berlokasi di sebelah utara benteng. Pemprov Sulsel juga akan membangun kanal selebar 3 meter untuk wisata keliling benteng menggunakan kano.
“Bangunan di belakang pun sebagian akan kami pugar agar tampilan benteng dapat dinikmati dari segala penjuru,” ujar Syuaib.
Inventarisasi terhadap keberadaan benteng akan terus dilanjutkan tim Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda terdapat sekitar 600 benteng di Tanah Air. (Aswin Rizal Harahap)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s