LINGKUNGANKU, INDONESIAKU



By: Gunardi Indrawan (2008)

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai potensi `Sumber Daya Manusia` yang melimpah, terdiri dari banyak pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke, dan memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah pula, mulai dari Sumber Daya Alam yang terdapat di darat sampai Sumber Daya Alam yang berada di lautan. Tetapi di balik segala kemelimpahan mulai dari kemelimpahan di sektor manusia sampai kemelimpahan Sumber Daya Alam, terdapat berbagai permasalahan lingkungan hidup yang kompleks, permasalahan lingkungan hidup ini saling berintegrasi satu dengan yang lainnya dan tidak bisa di lihat secara parsial akan tetapi harus di lihat secara menyeluruh atau komprehensif.

Di kota-kota besar misalkan Bandung, pertumbuhan urbanisasi meningkat sangat cepat,  yang menyebabkan pertumbuhan daerah pemukiman, daerah industri, dan kawasan komersial semakin meningkat pula. Seiring meningkatnya pertumbuhan urbanisasi meningkat pula kebutuhan terutama akan lahan dan air. Kondisi kota Bandung yang dikelilingi gunung-gunung dan sektor ekonomi yang menjanjikan menjadikan kota Bandung sebagai tujuan para `imigran` untuk mengembangkan usaha, bekerja, atau hanya mencari sesuap nasi. Yah, dari kalangan elite hingga kalangan menengah ke bawah `tumplek` memenuhi kota Bandung sebagai tujuan migrasi selain Jakarta. Selain itu ditunjang pula oleh sektor pendidikan yang unggul menjadikan Bandung sebagai tujuan untuk studi.

Pertumbuhan urbanisasi tentunya berhubungan dengan meningkatnya kepadatan penduduk, pencemaran, penurunan Sumber Daya Alam, bencana alam, undang-undangan, lemahnya fungsi pengendalian dan faktor-faktor diferensial lainnya yang saling berhubungan.

Meningkatnya kepadatan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya alam terutama lahan dan air mengakibatkan permasalahan yaitu muculnya pemukiman kumuh di bantaran sungai, pemukiman kumuh yang secara langsung dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Tidak heran bahwa permasalahan hidup yang timbul sangat erat berkaitan dengan keadaan dan dinamika kependudukan. Kita bisa melihat di pemukiman kumuh, jika di lihat dari atas atau dari udara menggunakan helikopter, terlihat jajaran atap rumah yang terbuat dari seng, asbes, genteng atau atap-atap rumah lainnya seperti `shaf tanpa imam`. Tidak rapih dan tidak lurus seta berantakan.

Kepadatan penduduk yang tinggi mengakibatkan semakin peliknya permasalahan lingkungan yang melibatkan berbagai elemen. masyarakat, pemerintah, industri, serta alam.

Pencemaran mulai dari pencemaran air, udara, dan tanah, serta pengolahan sampah yang bermasalah di Indonesia. Kualitas air yang semakin buruk tidak seiring dengan kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Air yang terdapat di sungai-sungai di Jawa Barat seperti di kota Bandung, Cirebon, Bogor, Depok, Bekasi tidak  cocok untuk pemakaian langsung (BPLHD Jabar, 2006). Hal ini dikarenakan air di sungai-sungainya sangat kotor dan tidak bisa digunakan langsung  terutama pada bagian hilirnya. Pencemaran sungai ini pun berhubungan dengan kebudayaan masyarakat.

Di Indonesia, rumah yang berada di pinggiran sungai, membelakangi sungai, berbeda dengan di Venezia Italia, rumah yang berada di pinggiran sungai menghadap sungai tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia terkesan tidak `butuh` dengan air yang berada di sepanjang sungai karena dipakai sebagai tempat `pembuangan` tinja, limbah cair termasuk di dalamnya limbah hasil cucian, dan mungkin sampah organik dan anorganik yang langsung di buang. Sedangkan di Venezia, Italia,  menunjukkan bahwa masyarakat Venezia terlihat membutuhkan daerah sepanjang sungai karena mereka memakai daerah sepanjang sungai untuk sarana transportasi.

Di Jakarta sudah dicanangkan sarana transportasi air yaitu waterways, di awal dicanangkannya sarana transportasi air ini, menyedot perhatian masyarakat sebagai sarana trasportasi alternatif, sama halnya seperti busway, tetapi bedanya sarana transportasi waterways ini tidak bertahan lama karena menemui hambatan, yaitu diantaranya adalah banyaknya sampah yang mengendap di dasar sungai maupun mengambang yang sering mengganggu  jalannya baling-baling perahu waterways ini karena tersangkut.

Masalah pencemaran ini tidak hanya disebabkan oleh sampah rumah tangga saja, sampah industri mempunyai andil besar, Pabrik tekstil dan industri garmen tidak hanya `menyumbang` sampah organik, tetapi logam berat, pestisida, detergen, dan zat pewarna ikut mereka sumbangkan pula.

Logam berat, minyak, dan hidrokarbon lainnya, asam dan alkalis adalah tipe polutan yang berasal dari industri logam dan kendaraan bermotor. Logam-logam berat yang paling banyak berasal dari industri tekstil, cat, dan kendaraan bermotor adalah cadmium, chromium, copper, timbal, mercury, nikel dan seng (BPLHD Jabar, 2010).

Masalah sampah dan limbah tidak terlepas dari bagaimana kita mengolahnya. Di Indonesia TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah menggunakan sistem open dumping, yaitu sistem pengolahan sampah pada lahan terbuka tanpa proses lebih lanjut. Contoh kasus dampak dari sistem pengolahan open dumping ini adalah kasus TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat. TPA ini tiba-tiba meledak dan tidak sedikit menelan korban khususnya para pemulung yang mengais rezeki di TPA ini. Ini terjadi karena terakumulasinya gas-gas hasil pembakaran tidak sempurna khusunya CH₄ (metana). Sistem open dumping ini menyebabkan pencemaran terhadap air yaitu meresapnya air lindian ke dalam air tanah.

Sebagai solusi untuk pengolahan sampah, baru-baru ini muncul sistem sanitary landfill. Sanitary landfill adalah sistem penimbunan sampah secara alami (Wulandari, 2010). Sistem ini dlakukan dengan melapisi sampah dengan tanah sehingga terjadi reaksi-reaksi kimia yang dibarengi dengan reaksi biologis yang melibatkan mikroorganisme. Tetapi sistem sanitary landfill ini menemui hambatan, yaitu kurangnya tenaga profesional dan terbatasnya saran penunjang lainnya (BPLHD Jabar, 2006).

Lemahnya penerapan hukum di segala aspek kehidpan termasuk di dalamnya kasus pencemaran. Perusahaan-perusahaan asing seperti Newmont dan Freeport misalkan. Newmont yang ketika itu tertimpa kasus pencemaran logam berat di Teluk Buyat ternyata pada kenyataannya Pengadilan Negeri Manado memenangkan Newmont, padahal pada kenyataanya banyak korban yang menderita penyakit kulit setelah memakan hasil laut di Teluk Buyat. Pembuktian kasus buyat ini sengaja tidak diarahkan pada kasus pencemaran tetapi diarahkan pada soal administrasi, yaitu persoalan izin pembuangan tailing (Fokus, 2007). Freeport yang mengadakan perjanjian dengan pemerintah untuk mengeksplorasi tembaga di Papua hanyalah kedok belaka karena sesungguhnya yang mereka eksplorasi adalah emas, sangaat disayangkan memang, rakyat Indonesia tidak bisa menikmati hasil bumi tanah airnya sendiri karena sudah di ambil oleh mereka.

Beberapa tahun lalu kita masih ingat tentunya kasus PT Lapindo Brantas di Sidoarjo yang menyebabkan Sidoarjo tenggelam oleh lumpur, kasus ini dijadikan bencana nasional oleh pemerintah tetapi penerapan hukumnya tidak jelas. Ganti rugi yang seharusnya diterima masyarakat secara merata, akan tetapi sampai saat ini masih ada saja warga Sidoarjo yang belum menerima ganti rugi karena mungkin prosedur yang `beribet`. Padahal kita tahu pemilik perusahaan ini merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia dan sudah seharusnya ganti rugi diterima masyarakat yang berhak karena kasus ini sudah berlangung lebih dari dua tahun lamanya. Apa mungkin, bahwa banyak pernyataan muncul di masyarakat, kalau Indonesia yang notabene negara hukum, bahwa semakin tinggi jabatan di negeri ini semakin kebal hukum. Hal ini juga sekarang sedang hangat-hangat dibicarakan adalah `hengkang` nya Sri Mulyani Indrawati ke World Bank, padahal kasus hukum century belum selesai. ”Dimana keadilan di negeri ini ??”. Hanya karena Presiden kita dihubungi World Bank dan meminta SMI untul menempati posisi Managing Director di World Bank. Lantas apa tanggapan kita ?. merasa `BANGGA` kah ? karena anak bangsanya di panggil untuk mengabdi di World Bank??!!.  Atau ”Masih layak kah negara kita disebut negara hukum..!!?’. Yah sekedar intermezzo.. tentang proses penerapan hukum di Indonesia yang `pilih-pilih`,

Lemahnya fungsi pengendalian, sebagai akibat kurang efektifnya kegiatan pemantauan dan juga akibat rendahnya penegakan hukum (Law Enforcement), dan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap masalah lingkungan (BPLHD Jabar, 2007).

Perundangan-undangan yang tumpang tindih, karena perundang-undangan dibuat hanya melihat dari satu sisi saja, tanpa ada hubungan dengan perundang-undangan lainnya sehingga terjadi bentrok antara perundang-undangan uang satu denga perundangan-undangan lainnya, bahkan perundang-undangan yang dibuat tidak mementingkan aspek masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

Permasalahan kebencanaan alam tentu juga mempengaruhi kondisi lingkungan hidup, Jawa Barat terutama bagian tengah dan bagian selatan termasuk wilayah rawan gempa dan volkanisme. Wilayah ini termasuk daerah yang paling sering terkena musibah tanah longsor yang terkait dengan ”irrational land use” dan juga perambahan hutan (BPLHD Jabar, 2006). Secara kesuluruhan Indonesia merupakan negara yang rawan bencana karena terletak diantara dua lempeng bumi yang saling bergerak berlawanan. Potensi gempa bumi, tsunami, dan bencana lainnya.

Di sisi lain, makin jauhnya kesenjangan sosial antara `si kaya` dan `si miskin`. Di lingkungan `si miskin`, kita bisa melihat di daerah pemukimannya, mereka hidup berdampingan saling membantu, saling care walaupun keterbatasn ekonomi menghadang mereka. Sedangkan di lingkungan `si kaya`, kita bisa melihat komplek perumahan elite yang ditempati mereka dengan menghabiskan tidak sedikit uang dan tidak jarang kehidupan bermasyarakat mereka bersifat individual, ironis memang..berbeda sekali dengan kondisi `si miskin`.

Jika dilihat secara menyeluruh, semua permasalahan lingkungan hidup bermuara pada manusia sendiri. Bagaimana seharusnya kita berperilaku terhadap lingkungan untuk masa depan anak cucu kita.

”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan  harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS.7:56

2 Comments Add yours

  1. bolehngeblog says:

    ngeri dengan berbagai macam kejadian bencana alam di indonesia, Entah sampai kapan bencana yang terjadi secara beruntun di negeri ini bisa berakhir. Semoga Allah SWT segera mengembalikan keadaan tersebut menjadi keadaan yang lebih baik

    salam,
    Bolehngeblog

    1. HIMBIONERS says:

      amin
      Salam juga dari kami HIMBIONERS UNPAD ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s