Kajian Islam – Penciptaan Manusia


Alhamdulillah, segala puji bagi ALLAH, dan shalawat beserta salam semoga dicurahkan atas Muhammad Rasulullah Sallahu alayhi wa salllam. Berikut kesimpulan kajian Islam I yang dilaksanakan di d2 Kamis, tanggal 12 Maret 2015 dengan tema “Penciptaan Manusia” bersama Ustadz Rahmat Baequni.

Dalam surat At-Tin Allah bersumpah. Pada ayat pertama Allah bersumpah dengan buah Tin dan buah Zaitun, pada ayat kedua Allah bersumpah dengan nama bukit Sina.

Manusia adalah seorang insan yang memiliki sifat suka lupa dan berbuat salah. Tetapi Manusia adalah makhluk mulia, maka tidak mungkin Allah, menciptakan manusia dengan cara yang tidak sempurna. Puncak kesempurnaan manusia terletak pada proses penciptaannya.

Manusia adalah makhluk terbaik dan sebagai khalifah di muka bumi ini dikarenakan :

1. Akal : manusia memiliki kemampuan membaca, berpiki, mesti mencerna apapun tentang dirinya ( QS. 2 : 164/ 3 : 190-191 )

2. Nafsu : manusia memiliki hawa napsu / cita rasa tinggi dalam nilai-nilai kebaikan, merupakan makhluk yang terkutuk jika tidak menjalankan tugasnya dengan baik ( QS. Ali-Imran : 14 )

3. Hati : fitrah seorang manusia terletak pada hatinya. Di dalam dirinyalah mempunyai 2 unsur yang kedua-duanya berjalan dengan sinergis, yaitu sifat ketuhanan (baik) dan sifat kemanusiaannya (lemah) ( QS. 30 : 30 / 7 : 172 )

4. Tubuh / raga : pada tubuh ini, Allah amat perhatian dengan penciptaan manusia dalam bentuk fisiknya. Ada 4 cara Allah dalam menciptakan manusia, yaitu :

 Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari tanah. Yang asal tanah ini dari bumi, sebelumnya Allah menyuruh malaikat Jibril untuk mengambilkan tanah di bumi namun tidak berhasil karena bumi menolak untuk diambil bagian dari dirinya yang akan dijadikan makhluk yang akan membuat kerusakan di atas perutnya, begitupun dengan malaikat Mikail, masih tidak berhasil membujuk bumi untuk memberikan tanahnya. Hingga akhirnya, Allah menyuruh malaikat Izroil untuk mengambil tanah di bumi. Dan hasilnya malaikat pencabut nyawa ini bisa mendapatkan tanah tidak hanya berwarna satu macam, tetapi lebih dari ini, dia mengambil warna merah, hitam, coklat, dan sejenisnya. Hingga akhirnya, dengan berbagai tanah tersebut Allah membuatkan sosok makhluk yang dinamakan manusia.

 Siti Hawa, diciptakan oleh Allah untuk menemani Adam yang sendiri. Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam yang diambilNya pada saat Adam tertidur. Oleh karena itu, seorang Adam (laki-laki) harus selalu menasihati Hawa (wanita) dengan cara halus, dengan cara yang dapat menyentuh hatinya, tidak dengan kekerasan.

 Nabi Isa As, diciptakannya oleh Allah tanpa seorang ayah. Itu artinya, beliau lahir tanpa adanya proses fertilisasi (pembuahan) antara sperma ayah dan sel telur ibunya. Allah memuliakannya dengan cara menaruhkan ruh Isa As pada rahim ibunya, Maryam. Wanita yang begitu suci tidak pernah disentuh laki-laki sekalipun.

 Proses penciptaan pada manusia biasa melalui pembuahan (fertilisasi) yaitu bertemunya ovum dan sperma dari orang tuanya, Allah menciptakan manusia dari saripati tanah (ada proses pembelahan sel). Hasil dari pembuahan ini adalah terbentuknya zigot yang di simpan di dalam rahim yang Allah ciptakan kuat / kokoh. Dari sinilah peran seorang ibu sangat berpengaruh bagi anaknya kelak. Biasanya baik atau buruknya seorang anak dilihat dari bagaimana cara ibunya mengajarkan segala hal padanya. Anak-anak hebat banyak dipengaruhi karena ibunya, walaupun dia sudah tidak punya ayah. Anak yang ditinggal ayahnya dan hidup dengan ibu, itu bisa menjadikan mereka anak-anak yang hebat ketimbang anak yang hidup dengan ayah tanpa ibunya. Contohnya , Nabi Muhammad SAW, Imam Syafi’i, dan masih banyak lagi anak-anak sukses lainnya yang diajari hanya dengan seorang ibu. Sedangkan Anak nabi Nuh, yang tabiatnya diajari oleh ibunya yang kafir saat diajak nabi Nuh untuk menaiki perahunya dia tidak mau, dia berpikir bahwa bukit yang tinggi bisa menyelamatkannya dari banjir bah pada waktu itu. Itu karena ajaran dari ibunya. Pada intinya, seorang ibu sangat mempengaruhi sifat anak-anaknya kini maupun kelak nanti. Tak heran letak surga memang dibawah kaki ibu.
Proses penciptaan manusia ada dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12-14, yang intinya manusia diciptakan saripati tanah yang berasal dari tanah kemudian Allah jadikan air mani yang disimpan melekat di dalam rahim, kemudian sesuatu yang melekat itu dijadikan segumpal daging kemudian segumpal daging dijadikan tulang belulang, lalu tulang belulang dibungkus dengan daging. Dan kemudian Allah menjadikannnya makhluk yang berbentuk lain.

Manusia pada saat berusia 4 bulan di dalam rahim ibunya, Allah sudah menggariskan takdir padanya.

1. Penetapan jenis kelamin sudah Allah berikan pada usia ini

2. Bagaimana suka dan dukanya

3. Bagaimana rezekinya ( Allah menetapkan dalam bentuk peluang. Artinya “ Man Jadda wa Jadda” yangintinya setiap peluang ini berbanding lurus dengan kesungguhannya dalam berkehidupan)

4. Siapa jodohnya ( Allah pun menetapkannya bersifat peluang. Semua sebanding dengan karakter manusia itu sendiri. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik, begitupun sebaliknya)

5. Kapan ajal/kematiannya ( dimana dan kapan kita mati adalah pilihan kita, dalam keadaan beriman atau tidak, Allah menempatkan manusia dalam suatu perjuangan antara fisik dan batin, sampai akhir manusia ditugaskan untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi ini.
Wallahu a’lam .

​​penulis : Nina Siti Aminah

Trip to Aspinall Foundation


Halo teman-teman, tidak terasa sudah menginjak bulan Maret juga ya. Alhamdulillah pada awal Maret kemarin, kami dari Divisi Mammalogi DP XXXVI Himbio Unpad telah melaksanakan sebuah kegiatan perdana dari serangkaian The Series of Primates yaitu Trip to Aspinall Foundation, Ciwidey :)

Beranggotakan 4 orang ditambah 13 peserta, kami pergi ke Ciwidey pukul 06.00 dari Jatinangor. Selama perjalanan kami habiskan dengan tidur karena perjalanan dirasa akan cukup panjang mengingat kami naik mobil, bukan naik motor yang dapat menghalau jalanan ketika macet. Namun alhamdulillah kami sampai disana lebih cepat dari perkiraan. Kami hanya menempuh 1 jam 40 menit perjalanan padahal saat survey kami menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke sana ckck.

image

Singkat cerita, seseorang menghampiri kami. Itulah Kang Sigit. Bisa dibilang beliau adalah leader of keeper and officer di Aspinall. Setelah bercakap sebentar kami lanjutkan perjalanan.

Lalu kami diajak ke dapur. Disitu sudah ada emak yang telah menyiapkan teko berisi air panas dan gelas yang tersusun rapi. Di bangku dapur kami semua duduk, Kang Sigit siap bercerita dan the story was begun…

Aspinall Foundation
Sebenarnya tempat yang kami kunjungi bernama Pusat Rehabilitasi Primata Jawa yang disokong oleh 3 badan yaitu Perum Perhutani, BKSDA, dan Aspinall Foundation, namun Aspinall merupakan badan yang bersifat sebagai pelaksana dari proses rehabilitasi satwanya. Aspinall ini bersifat titip rawat, artinya satwa yang ada disini merupakan satwa titipan dibawah kelola BKSDA (entah itu hasil sita dari pemilik, didatangkan dari kebun binatang luar negeri, dll) dan Aspinall bertugas merawat/ merehabilitasinya hingga satwa kembali pada sifat aslinya yang liar meski tidak 100%

image

Kita ketahui bahwa terdapat 5 primata endemik yakni Macaca fascicularis (Monyet Ekor Panjang), Nycticebus coucang (Kukang Jawa), Trachypithecus auratus (Lutung Jawa), Hylobates moloch (Owa Jawa), dan Presbytis comata

(Surili). Dari kelima primata tersebut hanya3 yang saat ini ada di Aspinall yaitu Owa Jawa, Lutung Jawa, dan Surili.

Deskripsi tentang 3 Primata Endemik
1. Owa Jawa
Bersifat monogami, dominan memakan buah, daya ingat cukup baik, tidak memiliki ekor, 1 kelompok berkisar 1-4 individu, jarak kehamilan 4bulan, masa kehamilan 6 bulan, satwa arboreal, bayi akan menempel pada induk selama 4 bulan. Termasuk satwa yang dilindungi.

2. Lutung Jawa
Di Aspinall terdapat 2 subspesies yaitu T. auratus auratus dari Jawa Timur yang mempunyai ujung rambut berwarna silver dan T. auratus mauritius dari Jawa Barat yang berwarna rambut pekat. 60 % memakan daun, sedikit buah, insekta, dan mineral tanah. 1 kelompok dapat terdiri dari 7-20 individu. Satwa arboreal. Terancam punah.

3. Surili
Pemakan 80 % daun muda, kulit pohon dan bunga. Satu kelompok terdiri dari 7-10 individu. Multifemale. Terancam punah.

Bagaimana proses rehabilitasi satwa di Aspinall Foundation?

Pertama-tama satwa yang datang akan dikarantina dalam ruangan beralaskan keramik berukuran 2.5x 2.5 m selama 3 bulan. Selama karantina dipantau dokter hewan,dibius, diambil darah untuk pengecekan penyakit, dilihat gigi untuk menentukan umur, dilihat matanya.Setelah karantina dipindahkan ke kandang sosialisasi. Kandang sosialisasi ini bisa berbentuk jaring atau open top enclosure. Waktu di kandang sosialisasi ini tidak menentu, tergantung satwa cepat berubah atau tidak. Seekor satwa bernama Regina memerlukan 2 tahun. Indikator dari perubahan tersebut antara lain pola makan, perilaku makan, dll. Tahap berikutnya yaitu pairing yaitu dicarikan pasangan yang tepat. Tandanya tepat yaitu mereka dapat berkembang biak dan menghasilkan anak serta tidak saling menyakiti. Tahap berikutnya adalah penyiapan lokasi untuk pelepasliaran. Dipastikan di lokasi tersebut ada makanan dan bebas dari predator. Selain itu lokasi harus ditinjau dari segi etnoprimatologi. Jangan sampai kita melepaskan mereka di kawasan masyarakat pemburu. Setelah semua dinilai siap, satwa siap di release.

Pemberian makan satwa?

Pemberian makan pada satwa dilakukan 3 x sehari pada jam 7 pagi, 11 siang, dan 3 sore. Biasanya makanan yang diberikan berupa sayur buah seperti ubi, kangkung, jeruk, jambu mentah, sirsak, dll. Diberikan juga madu dan telur puyuh. Makanan harus dipotong dan ditimbang dulu.

Enrichment?

Berfungsi sebagai latihan. Bisa berupa boneka predator untuk mengenalkan predator yang ada di alam disimpan di depan kandang, ditarik ulur pakai tali, atau dipasang perekam suara asli satwa predator. Diberikan juga bola takraw dan boneka monyet untuk para bayi.
Apa saja yang kami lakukan disana?
Mula-mulakami dibagi kelompok menjadi 2 untuk menyusuri kandang. Kami bisa melihat primata tersebut dari jarak dekat. Selain itu kami diajak untuk memberi makan satwa. Lalu di akhir kami diajak untuk membersihkan kandang satwa.

Penyakit apa saja yang biasanya menyerang primata?
TBC, Herpes, Jantung, Perut kembung, Paru-Paru, Demam, Hepatitis, dll.

Kegiatan terakhir kami adalah membersihkan kandang. Setelah itu kami melakukan evalusi di dapur. Poin terpenting adalah jangan terlalu ribut karena akan mengganggu satwa disana. Setelah itu kami berfoto bersama para keeper, kang Mamat, dan Kang Kiki serta ada pemberian plakat. Akhirnya jam 15.30 kami meluncur dari Aspinall menuju Jatinangor dan sampai sekitar jam 18.00 dengan selamat.
Thanks to Aspinall Foundation!

The Series of Primates belum berakhir. Ikuti terus kegiatannya dan dapatkan ilmunya. Save our primates! :)
(am)

Inventariasi Lepidoptera Se-Jatinangor I


Untuk mengetahui keragaman suatu makhluk hidup perlu dilakukanya inventarisasi. Inventarisasi dapat dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung ke lapangan.Dari segi pengumpulan data jenis data di bagi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang di ambil secara langsung untuk pertama kali dengan terjun ke lapangan,sedangkan data sekunder dapat diperoleh dari pendataan yang telah dilakukan sebelumnya tanpa harus melakukan pendataan ulang .

Dalam pelatihan inventarisasi Lepidotera Se- Jatinangor yang diadakan pada Sabtu 14 Maret 2015 dilakukan untuk mengetahui kenaekaragaman Lepidoptera (kupu-kupu) yang ada di Jatinangor.Pada pelatihan yang pertama ini mengambil dua titik lokasi yaitu di Cikuda dan Sukawening.Cikuda merupakan daerah pegunungan yang padat akan perumahan penduduk, namun semak dan pepohanan mendominasi pada bahu jalan.Sukawening merupakan daerah pegunungan yang padat akan perumahan penduduk namun juga terdapat areal persawahan dan semak semak belukar.

Penginventarisasian dilakukan pada saat pagi hari sekitar pukul 08.00 s.d 11.00 karena pada jam tersebut merupakan waktu yang tepat bagi Lepidotera untuk terbang mengeringkan sayapnya yang basah dan untuk mencari nektar pada bunga.Untuk menangkap Lepidoptera diperlukan beberapa alat seperti insectnet,papilot,alat tulis,dan tabel identifikasi.Lapidoptera yang di dapatkan harus di catat pada tabel identifikasi yang berisi ciri ciri,tempat dan waktu penangkapan,konsisi cuaca,vegetasi, nomor papilot, nama spesies,tubulensi,dan keterangan.Untuk ciri-ciri dapat menyatat ciri fisik baik dari warna abdomen,bentuk sayap,dan warna sayap.Tempat dan waktu dapat disesuaikan saat penginventarisasian apakah dalam kondisi cerah,mendung,dan sebagainya.Tanaman atau tempat sebagai lokasi ditemukannya Lepidoptera ditulis pada bagian vegetasi.Untuk penyimpannan kupu-kupu semetara diletakan dalam papilot kemudian di beri label nomor identifikasi sesuai yang di catat pada tabel identifikasi. Untuk mengetahui nama species dapat di identifikasinantinya dengan menggunaakan buku identifikasi.Jika menemukan spesies dengan ciri yang sama dapat di tuliskan frekuensinya pada kolom tubulensi. Kolom keterangan digunakan saat ada keterangan lain yang di dapat saat pengambilan kupu-kupu.

Setelah penangkapan Lepidoptera dirasa cukup dilakukan kembali pengulangan pada jalur yang telah di lalui.Lepidoptera yang sudah di tangkap akan di identifikasi. Sebelum mengidentifikasi kita dapat melakukan pengawetan terhadap kupu-kupu tersebut.Pengawetan pada serangga disebut Insectarium. Pengawetan bertujuan sebagai koleksi untuk pendidikan,pengajaran,koleksi dan sebagai bukti otentik untuk memperkuat data penelitian.

Pembuatan spesimen Insectarium memerlukan alat dan bahan antara lain Alkohol 70%,papan rentang, jarum, suntikan, kertas minyak,label,dan kapur. Alkohol 70% disuntikan pada bagian toraks Lepidotera untuk mencegah pembusukan pada bagian pencenaan yang mengandung bayak bakteri sehingga saluran pencernaannya juga dapat terawetkan,setelah itu Lepidoptera di rentangkan di atas papan rentang dan di tahan menggunakan jarum, rentangkan sayap atas dan bawah hingga tegak lurus satu sama lain,kemudian beri label sesuai tabel identifikasi,dan mengidentifikasi menggunakan buku identifikasi.Dari inventarisasian yang pertama di temukan 30 spesies Lepidoptera,diantaranya Ariadne ariadne .

Ariadne ariadne L. Merupakan famili Nymphalidae ordo Lepidoptera kelas Insecta. Spesies ini memiliki sayap bewarna coklat ke orenan dengan garis garis bergelombang , bagian tepi sayap bergerigi hitam , abdomen memiliki warna seperti sayap , pada kedua bagian ujung atas sayap terdapat bulatan kecil bewarna putih.Spesies inimemiliki Antena, kepala, dada dan perut berwarna karat ochraceous. Laki-laki memiliki serangkaian skala bersinar gelap (androconia) pada vena subkostal, vena 6 dan 7 dan patch pada bagian bawah sayap depan menuju dasar. Betina terlihat mirip namun sedikit pucat dan kurang skala androconial. Ariadne ariadne sering di temukan pada tumbuhan Ricinus communis.

Ariadne ariadne ini sering dianggap mirip dengan teman satu genusnya yaitu Ariadne specularia. Hanya saja ada satu ciri yang membedakan keduanya. Bagian atas sayap Ariadne ariadne memiliki corak hitam yang kurang jelas, tidak sejelas Ariadne specularia. Ariadne ariadne hidup dan tersebar di daratan asia, salah satunya Indonesia dan India.

Copyright © 2015 Divisi Entomologi DP XXXVI HIMBIO UNPAD. All Rights Reserved.

MORFOLOGI DAUN


Dalam mengidentifikasi suatu tumbuhan, mempelajari struktur luarnya menjadi keharusan tersendiri yang tidak dapat dipisahkan, sebab dengan mengetahui struktur luarnya seperti apa, kita dapat membedakan antara organisme yang satu dengan lainnya.Untuk menunjang hal tersebut, maka pada pelatihan kedua kali ini Divisi Flora dan Lingkungan mengusung tema Morfologi Daun. Mengapa dimulai dari daun? Sebab daun merupakan komponen utama yang mutlak ada pada tumbuhan selain akar dan batang. Selain itu, ketika mengidentifikasi suatu tumbuhan maka daun lah yang mudah untuk diamati secara langsung, karena daun mudah untuk dijangkau dan dapat dipelajari struktur luarnya dengan mata biasa.

Bersama Teh Ngesti Rahayu, mahasiswi Biologi angkatan 2011 sebagai pemateri, pelatihan F3Lyang kedua pada 4 Maret 2015 pun dimulai. Agar pelatihan tidak membosankan, peserta diajak untuk menjelajahi kawasan Arboretum sambil mengenal secara langsung morfologi dari daun. Sebelum pelatihan dimulai, peserta diminta untuk mengambil masing-masing sehelai daun yang ingin diketahui bentuknya seperti apa. Dari sanalah, pemateri menjelaskan bentuk dari masing-masing daun yang dipilih. Ternyata, bentuk daun dibedakan berdasarkan pelebaran bagian daun itu sendiri. Pada dasarnya helaian daun memiliki tiga bagian, yaitu bagian atas helai daun (apex), tengah helai daun, dan bawah helai daun (basis). Bentuk daun yang melebar di bagian apex ada obovate, yaitu membulat telur sungsang. Contohnya adalah daun ketapang (Terminalia catappa). Bentuk dari daun ketapang terlihat seperti telur yang terbalik, maka dari itu disebut membulat telur sungsang. Ada lagi bentuk daun obcordate yang ditemukan pada tumbuhan Oxalis corniculata. Daunnya menjantung yang berpangkal pada bagian runcingnya sehingga jenis ini disebut menjantung sungsang. Bentuk daun lain adalah sphatulate, terdapat pada tumbuhan Plantago major. Dikatakan sphatulate karena bentuknya menyerupai spatula atau sendok, dengan ujung yang lonjong lalu menyempit sampai ke pangkal daunnya. Bentuk daun selanjutnya adalah oblancheolate, yaitu melanset sungsang, biasa ditemukan pada tumbuhan Plumeria.

Setelah penjelasan singkat mengenai bentuk daun, pelatihan berlanjut dengan menyusuri kawasan Arboretum. Sambil menjelajahi Arbor, pemateri menjelaskan mengenai bentuk-bentuk daun yang ada di sekitar Arboretum, seperti daun talas, daun Ki sabun, hingga daun Bauhinia purpurea. Bentuk daun yang melebar di bagian tengah helaian daun terdiri dari linear, oblong, elliptical, oval, dan belah ketupat. Cara mengetahui bagian yang terlebar di daun tersebut adalah dengan melipat helaian daun ke bawah sama rata, maka akan terlihat bagian terlebar dari daun tersebut. Jika perbandingan lebar dan panjang helai daun 1 : 2,5-3 maka bentuk daun tersebut dinamakan oblong. Contohnya adalah daun mangga (Mangifera indica). Bentuk daun yang memiliki perbandingan lebar dan panjang helai daun 1 : 1,5 disebut oval, contohnya nangka (Arthocarpus heterophyllus). Jika perbandingan 1 : 2 disebut elliptical. Ada juga helaian daun yang memiliki perbandingan 1 : ~, seperti pada kelompok Poaceae, maka jenis ini disebut linear.

Pelebaran daun terakhir yaitu pada bagian basis atau bagian bawah helai daun. Beberapa di antaranya merupakan kebalikan dari pelebaran pada bagian apex, seperti cordate (menjantung) pada Ipomoea alba, ovate (bulat telur) pada Hibiscus rosa-sinensis, dan lanceolate (melanset). Jenis unik lainnya adalah sagitate, yaitu mematah panah, contohnya pada tanaman kangkung. Ada juga hastate, yaitu mematah tombak, contohnya pada Syngonium podophyllum, serta deltoid atau mendelta.

Selain mengenal bentuk daun, peserta juga diperkenalkan dengan perbedaan antara daun majemuk dan daun tunggal. Ciri-ciri daun majemuk adalah memiliki banyak helaian daun pada satu tangkai. Jika satu dari daun tersebut gugur, maka daun yang lain ikut berguguran juga. Dibandingkan daun tunggal, daun majemuk memiliki keunikan tersendiriyaitu tonjolan pada pangkal daunnya yang disebut pulvinus.

Daun majemuk memiliki dua tipe pertulangan daun, yaitu menjari (palmatus) dan menyirip (pinatus). Dari kedua tipe pertulangan daun tersebut, bentuk daun majemuk kembali dibedakan menjadi beberapa jenis. Jika kita mengamati daun jeruk, maka terlihat daunnya seperti dua bagian yang menempel. Jenis daun tersebut dinamakan unifoliolatus. Bauhinea purpurea juga memiliki daun yang terlihat seperti dua daun yang menempel, namun jenis daunnya disebut bifoliolatus. Bedanya dengan daun jeruk adalah daun Bauhinea purpurea ke samping, tampak seperti paru-paru, sedangkan daun jeruk berjejer ke bawah.

Jenis daun majemuk lainnya adalah paripinatus dan imparipinatus. Dikatakan paripinatus jika daun tersebut menyirip genap, sedangkan imparipinatus untuk daun majemuk menyirip ganjil.

Di pelatihan ini juga dipelajari pinggiran daun yang dapat mengubah bentuk daun. Ada empat kategori, yaitu lobus, fidus, partitus, dan sect. Lobus merupakan keadaan pinggiran daun yang berlekuk tidak begitu dalam, biasanya ¼ dari daun. Lekukan pada fidus ½, partitus ¾, sementara lekukan pada sect hampir mendekati tulang daun.
“Jadi belajar lebih dulu. Menarik.” – Azka, 2014.
“Bermanfaat. Mengingat-ingat lagi materi Mortum. Belajar lagi.” – Anggi, 2013.

Pematerian kali ini dirasa menarik dan menyenangkan diketahui dari testimoni yang didapat. Beberapa peserta mengatakan pelatihan mengenai morfologi daun ini menyenangkan serta dapat menambah wawasan baru khususnya bagi mahasiswa angkatan 2014 yang belum mengenal lebih lanjut mengenai morfologi daun. Pematerian ini juga membuat sebagian peserta yang telah mempelajari morfologi daun menjadi lebih ingat dan paham akan materi tersebut .

Oleh Vidyanti Masykur
Divisi Flora dan Lingkungan

PENGENALAN TUMBUHAN


Seperti yang kita ketahui, Indonesia dilimpahi dengan kekayaan hayati yang tiada taranya. Hutan yang terbentang di belasan ribu pulau memiliki berbagai jenis flora dan fauna, yang kadang tidak dapat dijumpai di bagian bumi lainnya dan merupakan salah satu negara Mega Biodiversity (kekayaan akan keanekaragaman hayati ekosistem, sumberdaya genetika, dan spesies yang sangat berlimpah). Namun, sekitar 300.000 jenis tumbuhan yang ada di Indonesia kini semakin berkurang. Disamping itu sekarang banyak hewan-hewan yang diburu untuk diperjual belikan begitu juga tumbuhan yang ditebang dan juga diperjual belikan. Maka dari itu banyak hewan dan tumbuhan yang hampir langka sehingga terancam punah. Ironis dan miris sekali bila melihat alam yang semakin hari semakin tidak tertata dan dimanfaatkan dengan baik. Tumbuhan yang kita kenali sekarang, hanya beberapa bagian saja atau sisa-sisa yang masih bertahan dalam suatu ekosistemnya.

F3L yang dilaksanakan di Tamtel Unpad

F3L yang dilaksanakan di Tamtel Unpad

Dengan semua hal tersebut yang berkaitan dengan semakin berkurangnya tanaman yang berada di Indonesia, sedih sekali bila kita tidak memanfaatkan tanaman tersebut sebaik-baiknya, namun lebih menyedihkan lagi apabila kita sebagai seorang biolog tidak mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai tanaman-tanaman yang berada di sekeliling dan berperan penting bagi kehidupan kita. Maka dari itu, divisi floring mengadakan pelatihan rutin yang terlibat langsung dengan tanaman tersebut. Pelatihan yang pertama yang dinamakan Fun Floring Field Learning (F3L) ini, kami mengadakan games yang berkaitan dengan berbagai tanaman. Peserta yang hadir menyediakan nama latin dari suatu tumbuhan untuk dijadikan sebagai nama kelompok, yang terdiri dari 3 kelompok. Peserta pun diharuskan untuk mendeskripsikan tanaman yang mereka pilih sebagai nama kelompok mereka. Dan ketiga kelompok tersebut terdiri dari Durio zibethinus, Cyperus rotundus, dan Zea mays. Dalam games ini terdapat 3 babak, yaitu babak I peserta diberikan pertanyaan oleh panitia masing-masing untuk 1 kelompok, babak II merupakan babak rebutan, dan babak III merupakan babak bonus. Dalam ketiga babak ini, peserta dapat membedakan benang sari dan putik, yang membedakannya yaitu benang sari merupakan metamorfosis daun, yang bentuk dan fungsinya telah disesuaikan sebagai alat kelamin jantan sedangkan, putik merupakan alat kelamin betina yang salah satu bagiannya mengandung sel telur. Peserta juga dapat mengetahui nama latin dari manggis, yaitu Garcinia mangostana. Lebih mengetahui lebih dalam juga mengenai tumbuhan yang telah diketahui sebelumnya. Seperti misalnya, kita menunjukkan gambar tanaman johar (Senna siamea), dan peserta menunjukkan dimana kita bisa mendapatkan tanaman tersebut di sekitar Unpad, hal tersebut dapat membuktikan bahwa peserta mampu mengenal tumbuhan yang dimaksud tersebut. Peserta juga mampu mengeja nama latin dari ilalang yaitu Imperata cylindrica dalam alfabet bahasa inggris dan mengetahui apa yang dimaksud dari sativa dalam nama latin padi yaitu Oryza sativa yang berarti memuaskan. Dengan semua games yang telah dilakukan, peserta lebih mengetahui dan mendalami lagi ilmu mengenai tumbuhan karena dilakukan tak hanya dengan teori dalam games saja namun dengan visualisasi juga dengan ditunjukkannya gambar sehingga peserta mempunyai gambaran mengenai tumbuhan-tumbuhan tersebut.

Setelah dilakukannya kegiatan pelatihan floring yang pertama ini terdapat beberapa testimoni dari para peserta diantaranya adalah “Dapat mengetahui dan mengenal lebih dalam tumbuhan yang telah kita kenali sebelumnya, ataupun yang belum kita kenali sebelumnya, dapat menambah wawasan juga mengenai ilmu tumbuhan, acaranya bagus dan menarik, sebelum diadakan pematerian, mengadakan pemanasan terlebih dahulu dan mengingat-ingat kembali pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya, seru dan banyak manfaat yang didapat dari games yang telah dilakukan pada pelatihan I ini.” Testimoni ini disampaikan oleh Agung(2014), Muthi(2013), Rika(2014), dan Elan(2013).

Acara ini diselenggarakan oleh Divisi Floring Dewan Pengurus XXXVI Himpunan Mahasiswa Biologi Unpad 2015 sebagai pembekalan ilmu untuk mahasiswa biologi itu sendiri agar dapat memperdalam ilmu lagi mengenai tumbuhan.

Divisi Floring
Dewan Pengurus XXXVI
HIMBIO UNPAD

Andini Lestari

Upcoming Event


Pada akhir bulan Maret ini, biro Humas Departemen Media Informasi dan Komunikasi DP XXXVI, mengadakan suatu acara yang memfasilitasi warga Himbio mengenai gambaran berbagai prospek kerja setelah menyandang gelar sarjana sains nanti.

Acara ini terbuka untuk seluruh warga Himbio, dan diharapkan partisipasi dari akang teteh, karena tentunya akan menambah wawasan mengenai prospek kerja setelah lulus nanti.

Don’t miss your chance to be a truly biologist!
STADIUM GENERALE
Sat, March 28th 2015
At gedung D3 Ruang Kuliah Biologi Dasar
09.00 till 13.00

More info: 082129091933 (Dzulismi)

 

image

 

 

 

 

Burung Nokturnal


Pada hari Senin, 23 Februari lalu Divisi Ornithologi DP XXXVI mengadakan pelatihan mengenai burung nokturnal. Pelatihan ini tidak hanya memberikan materi mengenai burung nokturnal, tetapi juga mengenai teknik pengamatan dan fotografi burung. Peserta pun diajak untuk langsung mengamati aktivitas burung nokturnal di kawasan Unpad Jatinangor. Materi disampaikan oleh Teh Gammi Puspita Endah dan Kang Randi Hendrawan, yang menyampaikan materi tentang burung nokturnal serta Kang Aulia Nafi yang menyampaikan materi mengenai fotografi burung.
Tidak hanya aktif pada pagi atau sore hari, burung pun ada yang aktif pada malam hari. Burung yang beraktivitas pada malam hari ini disebut dengan burung nokturnal. Burung-burung nokturnal ini di dominasi oleh jenis burung hantu dan celepuk. Selain itu ada pula burung cabak, yang merupakan burung nokturnal pemakan serangga.

Burung hantu merupakan burung nokturnal yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kebanyakan burung hantu merupakan karnivora yang termasuk Top Predator pada rantai makanan. Di kawasan Unpad jatinangor, jenis burung hantu yang paling banyak ditemui adalah Tyto alba alias Serak Jawa. Tyto alba termasuk ke dalam famili Tytonidae, yang memiliki ciri bentuk wajah yang berbentuk jantung hati, dan ukurannya relatif besar apabila dibandingkan dengan kerabatnya, yaitu celepuk.

Celepuk adalah sejenis burung hantu berukuran kecil yang termasuk ke dalam famili Strigidae. Burung ini biasanya tidak banyak beraktivitas di daerah yang dihuni manusia. Burung ini mudah ditemukan di pinggiran hutan, sehingga di kawasan kampus Unpad Jatinangor, celepuk lebih mudah ditemukan di dekat wilayah arboretum. Famili Strigidae terdiri dari banyak marga, diantaranya Otus, Bubo, Ninox, dan lain-lain. Di kawasan unpad jatinangor, dapat ditemui spesies Otus Lempiji. Jenis burung ini berukuran kecil, hanya sebesar telapak tangan orang dewasa. Burung ini memiliki ciri khas bulu yang mencuat di bagian kepalanya, menyerupai telinga. Otus lempiji

Burung Cabak adalah jenis burung nokturnal pemakan serangga, dari famili Caprimulgidae. Burung ini memiliki ciri khas berkaki pendek dan suaranya terbilang unik. Kicauannya menyerupai suara ketukan pintu. Burung ini bersarang di tanah, dan memiliki cara terbang yang unik pula. Meskipun kebanyakan burung cabak merupakan burung nokturnal, namun ada pula beberapa jenis burung cabak yang aktif pada siang hari (diurnal).

Mengamati burung nokturnal berbeda dengan mengamati burung diurnal. Karena pengamatan dilakukan pada malam hari, maka akan sulit untuk mengidentifikasi burung dengan mata telanjang. Alat bantu seperti binokular, monokular dan lain sebagainya pun tidak dapat berfungsi baik pada malam hari. Karena itulah, skill fotografi dibutuhkan untuk mempermudah identtifikasi burung yang ditemui.

Alat-alat yang dibutuhkan pada saat melakukan pengamatan burung nokturnal diantaranya adalah senter atau head lamp sebagai sumber penerangan, kamera, serta field guide untuk membantu identifikasi burung. Hindari penggunaan flash pada kamera karena dapat mengganggu daya pengelihatan burung. Selain itu, jangan pula menyorot burung dengan cahaya yang terlalu terang dan gerakan yang cepat, karena selain mengganggu pengelihatan burung, hal itu juga akan menyebabkan burung untuk berpindah sebelum sempat teridentifikasi.
Keberadaan burung pada suatu lokasi dapat diketahui melalui suara serta pergerakan burung. Mengamati burung nokturnal memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Pengamat harus cukup jeli untuk dapat menentukan keberadaan burung nokturnal. Selain itu, pada saat pengamatan pun jumlah pengamat tidak boleh terlalu banyak, serta pengamat tidak boleh banyak bersuara sebab burung nokturnal sensitif terhadap kehadiran manusia.

Divisi Ornithologi
DP XXXVI
Himbio Unpad

MANAJEMEN PERJALANAN


Ketika seseorang akan pergi berlibur atau melakukan penelitian ke suatu tempat terkadang orang itu bingung ketika membuat perencanaan perjalanan, bagaimana cara mengefisiensikan berbagai perlengkapan agar bisa tepat sesuai dengan ukuran tas yang akan dibawa dan bagaimana membuat perencanaan yang matang. Sering kali orang bepergian dengan menggunakan tas besar atau koper sedangkan pada kenyataanya orang itu hanya pergi berlibur atau melakukan penelitian dalam tiga hari saja. Mungkin orang beranggapan bila akan melakukan bepergian dibutuhkan barang yang banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Namun anggapan itu kurang tepat, sebaiknya membawa peralatan itu disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan yang diperlukan saja, jangan berlebihan karena akan merepotkan diri sendiri. Maka dari itu kami dari biro ekskursi mengadakan pematerian mengenai manajemen perjalanan. Salah satu tujuannya adalah memfasilitasi warga Himbio agar dapat melakukan manajemen perjalanan yang baik.

Mungkin orang masih bertanya- tanya apa itu manajemen perjalanan? Manajemen perjalanan merupakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan dalam sebuah perpindahan dari satu titik ke titik lain. Jadi apabila akan pergi ke suatu tempat perlu dilakukan manajemen perjalanan yang baik. Adapun tahap – tahap manajemen perjalanan yaitu, tahap perencanaan, tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan yang berupa publikasi. Pada tahap perencanaan tentu kita harus membuat suatu rencana yang matang dengan menggunakan rumus 5W+1H (what,why,where,who,how). What berupa apa tujuan dari perjalanan yang akan dilakukan (objek, ide),why dapat diartikan dengn kenapa harus dilakukan tujuan/ide tersebut,where dapat diartikan dimana letak lokasi yang akan dituju,when dapat diartikan kapan akan dilaksanakanya perjalanan,who adalah siapa saja pesertanya, berapa banyak, latar belakang dan how adalah bagaimana langkah-langkah pelaksanaannya.
Pada tahap perencanaan, ada yang disebut dengan organisasi perjalanan, organisasi perjalanan merupakan organisasi yang mengatur keterbatasan manusia agar selamat dalam mencapai tujuannya pada kegiatan di alam bebas. Organisasi perjalanan sangat penting diperhatikan karena dimaksudkan untuk menjaga keselamatan diri sendiri maupun berkelompok saat berada di alam bebas. Seperti saat berkelompok kita harus menentukan siapa yang akan menjadi ketua, anggota serta pembagian tugas masing-masing hal ini dilakukan agar setiap orang bisa menjadi penyeimbang satu sama lain saat berada di alam dan diharapkan dapat saling membantu disaat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam melakukan penelitian di alam selalu dibentuk sebuah tim karena dalam hal ini tidak mudah untuk melakukan semua hal hanya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Selanjutnya pada tahap persiapan hal yang biasa dilakukan adalah menyusun dan melaksanakan jadwal kegiatan, mencari data dan informasi, mengolah data dan informasi, menyusun ROP (Rencana Operasional Perjalanan), menyusun jalur evakuasi, menyusun dan melaksanakan kebutuhan diklat serta menyusun dan memenuhi tugas per-bidang. Pencarian data dan informasi dapat didapat dari internet, buku maupun hasil survei langsung. Kemudian pada saat mengolah data dan informasi, seperti kondisi lintasan, kondisi cuaca, tingkat kesulitan medan. Selanjutnya penyusunan rencana operasional dapat berupa bahaya Objektif (Alam): tingkat kesulitan dan bahaya subjektif (manusia): tingkat kerumitan. Kemudian menyusun kebutuhan diklat biasanya yang dilakukan yaitu mendaftar hal-hal yang harus dikuasai seperti pengetahuan mengenai navigasi darat, biologi praktis, metode pengambilan data dan analisis serta medik. Selanjutnya hal yang tak kalah penting harus diperhatikan adalah peralatan dan perbekalan. Peralatan dan perbekalan harus disesuaikan dengan kebutuhannya agar tetap efisien saat berada di alam.

Pada tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan. Tahap ini adalah tahap yang penting karena setelah semua persiapan terpenuhi maka pelaksanaanlah sebagai tujuan utama pada saat melakukan perjalanan. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah Fiksasi rencana operasional perjalanan, fiksasi transport, akomodasi, basecamp dll, sudah mengantongi izin (SIMAKSI, Surat Jalan, dll), pemenuhan logistik dan perbekalan, evaluasi dan briefing dan menjalankan rencana operasional perjalanan.Setelah selesai pelaksaan kini saatnya membuat suatu laporan disertai publikasi, hal ini dilakukan sebagai bukti bahwa kita telah melakukan perjalanan, contohnya pada saat melakukan penelitian ataupun hanya menginventarisasikan flora dan fauna yang ada. Biasanya pelaporan dan publikasi dilakukan dengan membuat buku maupun artikel sehingga orang lain dapat mengetahui hasil penelitian yang telah dilakukan. Semakin kita ingin tahu dalam ilmu pengetahuan semakin kita membuka wawasan yang kita miliki. Semoga pematerian kedua ini bisa bermanfaat bagi semua orang dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Biro Ekskursi
DP XXXVI
Himbio Unpad

Pengabdian dalam Pendidikan Lingkungan Hidup


Pengabdian merupakan suatu perbuatan baik berupa pikiran, tenaga, dan pendapat yang dilandasi dengan keikhlasan. Seperti yang kita tahu, pengabdian termasuk dalam tri dharma perguruan tinggi. Maka dari itu pengabdian sangatlah penting untuk kita sebagai mahasiswa. Pengabdian dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah yang termasuk dalam program kerja Biro Sosial DP XXXVI Himbio Unpad yaitu “Sakola Arbor’. Di Sakola Arbor kita dapat mengabdi dengan menjadi guru dari anak-anak dusun cinenggang. Sakola Arbor ini merupakan sekolah informal yang berbasis lingkungan hidup. Untuk menunjang pengetahuan pengajar dan relawan tentang pentingnya lingkungan hidup terhadap anak-anak, maka biro sosial memfasilitasi dengan mengadakan Pelatihan Sakola Arbor tahap I dengan mengangkat tema “Pengabdian dalam Pendidikan Lingkungan Hidup”.
Apa itu lingkungan? Mengapa pendidikan lingkungan hidup sangat penting bagi anak-anak? Seperti yang kita tahu lingkungan merupakan interaksi yang terjadi antara faktor biotik dan faktor abiotik. Pendidikan lingkungan hidup sangatlah penting bagi anak-anak, karena pendidikan yang diterapkan terhadap anak-anak sejak dini dapat mencetak karakter cinta lingkungan terhadap anak itu sendiri. Jika karakter cinta lingkungan tersebut sudah terbentuk maka anak-anak sebagai penerus bangsa dapat lebih mencintai lingkungannya dan adanya kesadaran untuk menjaga lingkungannya. Lalu bagaimana cara untuk menjaga lingkungan? Banyak sekali cara untuk menjaga lingkungan, dimulai dari hal yang paling kecil yaitu membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, menghemat sampah plastik dan lain-lain. Walaupun efeknya tidak bisa langsung terasa namun 10 atau 20 tahun lagi anak-anak itulah yang dapat menentukan seperti apa lingkungan kita nantinya. Maka dari itu “Sakola Arbor” sangat menekankan agar anak-anak yang kita bina dapat mencintai dan menjaga lingkungannya sendiri.

Pelatihan tahap I ini dilaksanakan pada tanggal 2 maret 2015, dengan pemateri kang Edhu (biologi’11). Dalam pelatihan tahap I ini pengajar dan relawan lebih banyak diminta untuk bermain games dengan berbagai esensi, pada games pertama esensi yang ditunjukan adalah bagaimana manusia harus memiliki rasa empati terhadap lingkungan supaya dapat menciptakan keseimbangan.
Games kedua memiliki esensi komunikasi, dimana setiap pengajar maupun relawan harus memiliki komunikasi yang baik terhadap anak-anak. Seperti yang kita tahu anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda dan kita sebagai pengajar ataupun relawan harus bisa berkomunikasi dengan baik dan dapat diterima oleh anak-anak. Games ketiga memiliki esensi responsibility. Responsibility harus dimiliki oleh setiap pengajar dan relawan. Bagaimana kita dapat merespon anak-anak dengan baik dan bisa kita tanggapi pula dengan baik.

Yang terakhir adalah para pengajar dan relawan diminta untuk membuat mind map tentang apa yang akan dilakukan dalam pengabdian lingkungan hidup di Sakola Arbor. Terdapat banyak ide-ide yang dicetuskan oleh pengajar dan relawan dalam mind map tersebut. Mulai dari bagaimana kita harus membuat anak-anak merasa nyaman kemudian membiasakan membuang sampah pada tempatnya sampai bagimana kita dapat membuat anak-anak berkreasi dengan menggambar dan mewarnai kaleng cat yang akan dipakai sebagi tempat sampah.

Pelatihan tahap I ini diharapkan dapat menambah ilmu para pengajar dan relawan serta mengerti dan memahami pentingnya pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak. Selain itu, dapat mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk lebih cinta lingkungan. Mari mengajar! Menjaga bumi? Salam abdi Lestari!!

Pelatihan tahap I ini diharapkan dapat menambah ilmu para pengajar dan relawan serta mengerti dan memahami pentingnya pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak. Selain itu, dapat mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk lebih cinta lingkungan. Mari mengajar! Menjaga bumi? Salam abdi Lestari!!

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN


​ Kita tidak pernah bisa memperkirakan umur seseorang dan kita tidak tahu apa penyakit yang diderita oleh orang-orang disekitar kita. Ketika seseorang mengalami kecelakaan terkadang kita hanya panik dan takut tanpa melakukan pertolongan. Jangankan bertindak untuk berusaha menolong saja kita tidak tahu bagaimana caranya saat menolong orang yang mengalami kecelakaan itu. Maka dari itu biro ekskursi memfasilitasi warga himbio dalam menambah ilmu serta membuka wawasan mengenai pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan. Oleh karena itu kami mengadakan pematerian yang bertemakan Pertolongan Pertama. Terkadang saat kita menolong orang yang menurut kita itu benar belum tentu dalam faktanya benar. Tanpa tahu teorinya seperti apa bisa jadi kita dapat membahayakan nyawa seseorang, seperti ketika seseorang mengalami penyakit yang berbahaya kita tahu bagaimana cara mengatasinya.

Kedaruratan medis adalah gangguan tubuh yang ada dan sudah dikenali di dunia kedokteran atau dikenal dengan sebutan penyakit. Penyebabnya bisa karena infeksi,racun atau kegagalan sistem dalam tubuh. Adapun tanda-tanda yang bisa dideteksi ketika seseorang terkena penyakit yaitu salah satunya perubahan status mental,perubahan irama jantung,perubahan pernafasan,perubahan tekanan darah dan perubahan keadaan kulit. Selain tanda-tanda ada pula gejala yang biasa ditimbulkan salah satunya adalah Demam,nyeri,mual,buang air kecil berlebih/tidak sama sekali,pusing dan sesak nafas. Penyakit-penyakit yang berbahaya dan kebanyakan terjadi disekitar kita seperti gangguan jantung,gangguan pernafasan,gangguan kesadaran,pingsan dll. Jangan panik terlebih dahulu lakukan Tenangkan penderita dan jangan tinggalkan penderita sendiri,pastikan jalan nafas penderita terbuka dengan baik dan berikan oksigen bila ada,kendorkan pakaian yang mengikat, bawa secepatnya ke RS.

Adapun penyakit yang sering kita temui yaitu pingsan. Pingsan terjadi karena peredaran darah ke otak berkurang, dapat terjadi akibat emosi yang hebat, berada dalam ruangan yang penuh orang tanpa udara yang cukup, letih dan lapar serta aktifitas berat. Cara mengatasi ketika ada yang pingsan yaitu, baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan,longgarkan pakaian, usahakan penderita menghirup udara segar,periksa cedera lainnya dan diberi selimut.

Selain itu ada pula yang dinamakan kram panas yang terjadi akibat kehilangan garam tubuh yang berlebihan melalui keringat. Salah satu penanganan adalah Baringkan penderita di tempat teduh. Diberi minum kepada penderita, bila perlu campur sedikit garam. Kelelahan panas bisa terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktivitas di lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya aliran darah. Penanganan yang sama juga dapat dilakukan. Ada dimana dapat terjadi yang namanya hipotermia. Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh menurun. Suhu lingkungan tidak perlu sampai beku untuk mencetuskan hipotermia. Ada beberapa keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu faktor angin dan kekurangan makanan. Cara penanganan yang tepat Pindahkan penderita dari lingkungan dingin,jaga jalan napas dan berikan oksigen bila ada, ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering, bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan pelan, rujuk ke fasilitas kesehatan.
Selain itu ada yang namanya Bantuan Hidup Dasar (BHD) & Langkah Tindakannya ini adalah Bantuan hidup (life support) merupakan sebuah upaya sederhana mengatasi keadaan yang mengancam nyawa seseorang sehingga dapat mempertahankan hidupnya untuk sementara. Disebut Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) karena tanpa menggunakan intervensi obat atau alat kejut jantung, jika sebaliknya disebut dengan bantuan Hidup Lanjut (Advance Life Support). Langkahnya sebagai berikut : Airway Control (Penguasaan Jalan Napas), breathing Support (Bantuan Pernapasan), circulatory Support (Bantuan Sirkulasi). Hal tersebut ada kaitan eratnya dengan rantai survival diantaranya yaitu Memanggil bantuan medis, Melakukan Resusitasi Jantung Paru, defibrilasi (dengan alat kejut jantung) dan pertolongan Hidup Lanjut. Dalam keadaan yang bisa dibilang darurat ada kalanya kita melakukan bantuan pernafasan, cara melakukan bantuan pernafasan sebagai berikut melalui mulut penolong menggunakan masker RJP/APD atau secara langsung ke hidung/mulut penderita atau menggunakan alat bantu berupa masker berkatup (BVM).
Pemateri pertolongan pertama kecelakaan ini menjadi ilmu baru yang didapatkan oleh pesertanya. Selain penyampaian materi juga disertai dengan praktek langsung sehingga dapat dipahami. Acara ini diselenggarakan oleh Biro Ekskursi Dewan Pengurus XXXVI Himpunan Mahasiswa Biologi UNPAD sebagai bekal ilmu saat berada dialam bebas maupun saat berada dilingkungan masyarakat. Kita sebagai seorang biolog juga harus mengetahui hal-hal penting saat berada di alam bebas salah satunya seperti penanganan saat terjadi kecelakaan pada saat melakukan penelitia, KKL, OWA maupun ekspedisi.

​​​​​​​​​ Biro Ekskursi
​​​​​​​​ ​Dewan Pengurus XXXVI
​​​​​​​ ​ HIMBIO UNPAD